Home » , » Manunggaling Kawula Gusti

Manunggaling Kawula Gusti



Oleh: M.Mukhlis el-Sasaki.*

Pendahuluan

Tasawuf merupakan sebuah disiplin ilmu yang dalam sejarah perjalanannya mengalami evolusi. Tasawuf itu sendiri masuk dalam khazanah keilmuan Islam kira-kira pada abad ke 3 H. masuknya tasawuf dalam khazanah Islam disebabkan oleh beberapa factor, terutama bersamaan dengan penyebaran Islam ke berbagai daerah diluar jazirah Arabia, terlebih didaerah bekas kekuasaan Persia yang terkenal unsure-unsur mistiknya.
.

Untuk lebih memudahkan kita dalam memahami konsep Manunggaling kawula gusti, terlebih dahulu kami akan memaparkan secara singkat perjalanan tasawuf hingga pada level falsafi.

Perjalanan Sejarah Tasawuf Falsafi

Pada dasarnya tasawuf merupakan jalan atau latihan-latihan menanamkan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Disatu sisi Islam sebagai agama yang memang menganggap penting penerapan akhlak dalam kehidupan sehari-hari, tentunya menjadi partner bagi tasawuf untuk kemudian masuk dalam khazanah Islam. Maka disinilah kemudian terjadi asimilasi dimana tasawuf mempengaruhi kehidupan sebagian umat Islam. Diantara mereka ada yang kemudian menjadikan tasawuf sebagai jalan menempuh kebahagiaan dengan melatih diri menjadi pribadi yang luhur dengan akhlak yang mulia. Sebagaimana kita ketahui bahwa tasawuf  memiliki beberapa variasi dan macam-macam ada tasawuf falsafi, sunni, amali. Namun perkembangan pemikiran dalam dunia tasawuf dilingkungan Islam melaju keras dan tidak dapat dibendung. Terutama ketika terjadi proses penerjemahan karya-karya Yunani keperadaban Islam. Dari sinilah adanya asimilasi filsafat Yunani dengan tasawuf.[1]

Seperti dijelaskan sebelumnya, tasawuf pada dasarnya mengajarkan latihan-latihan penerapan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mencapai kesucian batin mendekatkan diri kepada Allah. Disatu sisi filosof Yunani ada juga yang mengajarkan jalan mendapatkan kesucian batin mendekatkan diri pada Tuhan. Socrates, Protogoras, Phytagoras dan Plato mempunyai teori-teori tersebut. Adanya kesamaan ini menarik perhatian masing-masing pihak, baik itu para filosof ataupun sufi. Dari sinilah tampil sejumlah sufi yang filosofis atau filosofis yang sufi. Konsep-konsep tasawuf mereka disebut tasawuf falsafi, yakni tasawuf yang kaya dengan pemikiran filsafat.[2]

Filsafat Yunani yang begitu besar pengaruhnya terhadap tasawuf falsafi adalah filsafatnya Neo-Platonis, beberapa peneliti dan penulis tasawuf baik dari kalangan muslim, maupun non muslim, menyebutkan bahwa Neo-Platonis adalah salah satu referensi penting tasawuf, bahkan merupakan referensi pertama bagi orang-orang sufi yang berpendapat tentang wahdah al-Wujud, mulai dari Abu Yazid al-Bustami, Sahl al-Tasturi, al-Hallaj sampai kepada Ibnu Arabi. Menurut Dr. Ilahi Dhahir, para sufi tersebut berkenalan dan mengambil teori-teori Neo-Platonis melalui al-faridh dan Ibnu Sina.[3]

Adanya pengaruh filsafat Yunani terhadap tasawuf dikemudian hari, yakni pada tasawuf falsafi diakui oleh beberapa peneliti. Kapan terjadinya kontak tersebut ada yang mengatakan pada abad ke 6 H, seperti pendapat Nichelson. Ada juga yang mengatakan pada abad ke 4 H. seperti yang dikatakan Missinion. Menurut Ilahi Dhahir yang benar dan rojih adalah terjadi pada abad ke 3 H.[4]

Manunggaling Kawula Gusti

Dalam tasawuf, penghayatan manunggaling kawula gusti ini bisa dicapai melalui memuncaknya penghayatan fana hingga al-Fana dalam dzikir, dan bisa pula dari pendalaman rasa cinta rindu yang memuncak pada mabuk cinta didalam Tuhan, atau dari kedua-duanya. Penghayatan manungggaling dengan tuhan yang berasal dari gelora rasa cinta bisa dipahami dari evolusi dalam mengalami sepuluh tangga ahwal, yaitu dari cinta mendalam hingga mencapai syauq, dan kemudian meningkat menjadi pengalaman uns, yakni kegilaan dalam asyik-mansyuk (intim) dengan Tuhan.[5] Manunggaling kawula gusti dalam istilah tasawuf dikenal dengan tiga istilah: ittihad, Hulul, dan Wihdat al-Wujud.

Ittihad

Ittihad yaitu bersatunya seorang sufi sedemikian rupa dengan Allah swt setelah terlebih dahulu melalui penghacuran diri dari keadaan jasmani dan kesadaran rohani untuk kemudian berada dalam keadaan baka (tetap bersatu dengan Allah SWT). Paham ittihad pertama kali dikemukakan oleh sufi Abu Yazid al-Bustami (meninggal di Bistam, iran 261 H/874 M).[6]

Pada suatu waktu dalam pengembaraannya, setelah shalat shubuh Yazid al-Bustami berkata kepada orang-oorang yang mengikutunya: innii ana Allah laa ilaaha illa ana fa`budnii (Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tiada Tuhan melainkan aku, maka sembahlah aku). Mendengar kata-kata itu, orang-orang yang menyertainya mengatakan bahwa al-Bustami telah gila. Menurut pandangan para shufi, ketika mengucapkan kata-kata itu, al-Bustami sedang berada dalam keadaan ittihad, suatu maqam tertinggi dalam paham tasawuf.[7] Kata-kata seperti itu disebut syathahat (perkataan aneh-aneh yang keluar dari mulut seorang sufi ketika ittihad ,menyatu dengan Tuhan).

Meskipun Abu Yazid al-Bustami berpaham ittihad, namun nasibnya tidak seperti yang dialami para penganut manunggaling kawula gusti yang dihukum mati seperti al-Hallaj. Menurut Simuh, Abu Yazid tidak mendapat reaksi dari pendukung ajaran tauhid yang islami, karena kata-kata atau pernyataan shatohat Abu Yazid al-Bustami diungkapkan ketika sedang tidak sadar, diwaktu sadar Abu Yazid tidak mengakuinya.[8]

Hulul

Ajaran maanunggaling Kawula gusti dalam bentuk ittihad kemudian meningkat jadi falsafah Hulul. Paham Hulul adalah paham yang menyatkan Tuhan telah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu sebagai tempat-Nya, setelah sifat-sifat kemanusian dalam tubuh tersebut dihilangkan. Paham Hulul dalam tasawuf ditimbulkan oleh Husein Ibnu Mashur al-Hallaj (lahir di Persia tahun 858 M).[9] konsep hulul itu sendiri didasarkan pada pemahaman al-Hallaj bahwa manusia memiliki dua sifat dasar yaitu sifat Ke-Tuhanan (Lahuut)dan sifat kemanusiaan (nasuut). Apabila seseorang telah dapat menghilangkan sifat-sifat kemanusiaannya dan mengembangkan sifat-sifat ilahiyah melalui fana, maka Tuhan akan mengambil tempat dalam dirinya dan terjadilah kesatuan manusia dengan Tuhan.[10] Al-Hallaj juga menjadikan al-Qur`an sebagai sandaran teori hululnya dengan penafsisrannya sendiri. Al-Qur`an yang dipakai dalil dia adalah al-Baqarah:34.

“Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakar dari manusia dan batu, yang disediakan bagiorang-orang kafir”

Menurut al-Hallaj, adanya perintah Allah agar malaikat sujud kepada Adam itu adalah karena Allah telah menjelma dalam diri Adam sehingga ia harus disembah sebagaimana menyembah Allah. Lebih jauh al-Hallaj menyebut bahwa mula diciptakan Allah adalah Nur Muhammad yang bersifat Azali, adanya mendahului adam, dan namanya mendahului kalam. Hal tersebut dapat kita lihat dari pernyataan abdul Hakim hasan dalam bukunya at-Tasawwuf fi Syi`ri al-Arabi, sebagaimana dikutif Simuh, sebagai berikut: Hallaj adalah mula-mula orang yang mengajarkan adanya Nur Muhammad, yaitu suatu konsep yang kemudian kadang disamakan dengan logos dan kadang pula disebut insane Kamil. Hallaj mengajarkan bahwa mula yang pertama yang diciptakan Allah Swt. Dan Nur Muhammad ini bersifat azali dan Qadim, adanya mendahulu segala maujud (alam semersta) ini. Maka Muhammad itu dalam bentuk hakikinya adalah nur Allah bersifat azali dan qadim mendahului setiap makhluk, sedang dalam kedudukannya sebagai Rasul Allah adalah manusia bersifat baharu, menjadi penutup segala Nabi. Diantara segala nur tidak ada nurnya segala nur yang amat terang dan qadim selain nur-Nya Muhammad yang adanya mendahului adam, dan namanya mendahului kalam, lantaran wujud sebelum adanya makhluk.[11]

Konsep dan istilah nasuut dan lahuut dalam diri manusia yang diungkapkan al-Hallaj merupakan pinjaman dari tradisi atau konsep teologi Kristen mengenai ketuhanan Yesus. Dalam sejarah teologi Kristen pernah terjadi perselisishan mengenai Yesus apakah dia Tuhan atau manusia. Yesus dianggap memiliki lahuut dan nasuut. Saat itu muncul, konsep teologi dalam sejarah Kristen yang dibawa Nestorius (428H) seorang patriarch dari konstatinopel. Saat itu Nestorius menggugat konsep teologi Kristen yang sedang trend waktu itu. Gugatan Nesturius mendasar sekali. Dia menolak keilahiyan Yesus, baginya Yesus hanyalah manusia, tidak memiliki unsure Tuhan. Teologi Nestorius mendapat perlawanan dari Cyrillus seorang patriarch dari Alexandria. Baginya Yesus kristus memang memiliki unsure insaniah (Nasuut), namun unsure ilahiyahnya lebih berat.[12]



Wahdah al-Wujud

Puncak falsafi terletak pada konsep atau doktrin wahdat-al-wujud yang diformulasikan oleh Ibnu Arabi. Maksud dari wahdat al-Wujud adalah bahwa seluruh yang ada walaupun ia Nampak, sebenarnya tidak ada dan keberadaannya tergantung kepada Tuhan sang Pencipta. Yang Nampak hanya bayang-bayang dari yang satu. Seandainya Tuhan tidak ada, yang merupakan sumber bayang-bayang yang lain pun tidak ada, karena seluruh alam ini, yang ada hanyalah satu, yaitu wujud Tuhan dan lainnya hanya merupakan bayang-bayang.

Paham ini merupakan perluasan dari konsep Hulul. Dikatakan demikian, karena memang Ibnu Arabi memforrmulasikan paham tersebut dengan mengembangkan konsep hululnya al-Hallaj. Ibnu Arabi mengganti istilah nasuut yang ada dalam hulul dengan kholq (makhluk). Sedangkan lahut menjadi al-Haq, khalq dan al-Haq adalah dua sisi bagi sesuatu, dua aspek yang ada pada segala sesuatu yang ada ini mengandung aspek lahir dan aspek batin. Aspek khalq memiliki sifat kemakhlukan atau nasuut. Sedangkan aspek batin al-Haq memiliki sifat ketuhanan lahuut. Tiap-tiap yang bergerak tidak terlepas dari dua aspek itu. Yaitu sifat ketuhanan dan sifat kemanusiaan. Tetapi aspek yang terpenting adalah aspek batinnya.

Paham wahdat-al-wujud  diambil dari falsafat bahwa Tuhan hanya melihat dirinya diluar dirinya. Kemudian diciptakannya alam sebagai cermin yang merefleksikan gambaran setiap kali ia ingin melihat dirinya, maka ia melihat alam. Karena pada setiap benda alam terdapat aspek al-Haq. Jadi walaupun segala benda ini kelihatannya banyak, tetapi sebenarnya yang ada hanyalah satu wujud yaitu al-Haq.[13]  Pengumpamaan Tuhan dengan ciptaannya bagaikan yang melihat cermin disekelilingnya didalam setiap cermin tersebut ia dapat melihat dirinya dan akan terlihat banyak sebanyak cermin yang diletakkan. Tetapi, hakikat yang sebenarnya hanya satu. Al-Qasani berkata:”Wajah sebenarnya satu,tetapi jika engkau peerbanyak cermin ia menjadi banyak.”

 Hal demikian sama seperti batang pohon dengan bayangannya. Bayangan tersebut tidak akan Nampak bila pohon sebagai sumber bayangannya tidak ada. Tetapi sebaliknya, dapat saja terjadi pohon tanpa bayangan jika dalam gelap.

Dari pemaparan singkat tentang paham ini, terlihat begitu jelas bagaimana pengaruh filsafat Plotinus tentang emanasi. Bahwa Tuhan memikirkan dirinya kemudian timbullah wujud-wujud lain dari pancaran-Nya. Ini mempertegas hasil kajian beberapa peneliti yang menyebut filsafat Plotinus sebagai paling berpengaruh terhadap tasawuf falsafi.

Selain itu, yang paling terpenting menurut penulis ialah para sufi sering menggunakan beberapa dalil dari al-Qur`an dan hadits untuk mendukung paham manunggaling kawula gusti. Dalil-dalil tersebut diantaranya Surat al-Hadid 5, surat Qaaf ayat 16 dan sabda Rasulullah Saw dalam hadits Qudsi yang berbunyi :”Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sampai akupun mencintainya bila Aku mencintainya maka jadilah Aku sebagai telinganya yang dia mendengar dengannya, mata yang dia melihat dengannya, tangan yang dia memegang sesuatu dengannya, dan kaki yang dia berjalan dengannya”. (HR.al-Bukhari). Mungkin kita masih ingat pada dekade 2000an pemusik dari pentolan DEWA 19 pernah melantunkan hadits ini melalui bait-bait lagunya yang penuh dengan berbau manunggaling kawula gusti.





Kesimpulan

Dari pemaparan diatas, dapat kita simpulkan bahwa tasawuf falsafi banyak mengambil sumbernya dari filsafat Yunani, teruama filsafat Platonis. Yang penting dominan mempengaruhi tasawuf falsafi adalah konsep emanasi, dimana semua makhluk merupakan pancaran dari Tuhan. Semua wujud yang ada merupakan hasil dari pancaran wujud yang satu yang berfikir tentang dirinya. Konsep ini dipahami oleh para sufi bahwa unsure-unsur ilahi terdapat dalam setiap wujud. Dari sinilah konsep manunggaling kawula gusti terformulasikan. Dan disinilah konsep manunggaling kawula gusti bertentangan dengan ajaran Islam. Agama islam mengajarkan segala sarwa yang terdiri atas dua esesnsi, yaitu Tuhan dan alam, Kholik dan Makhluk, yang pertama sebagai maha pencipta dan yang kedua sebagai yang diciptakan. Perbedaan fundamental itu sebagaimana dinyatakan Allah dalam al-Qur`an




,

“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Asyura:11)

Wallahu a`lam bi al-Shawab



Referensi

o   Abujamin Roham, Pembicaraan Sekitar Bibel dan Qur`an, Jakarta:Bulan Bintang, 1984,cet 1

o   Dr, Ihsan Ilahi Dhahir, Sejarah Hitam Tasawuf, Latar Belakang Kesesatan Kaum Sufi, Dar al-FALAH, Jakarta:2001, cet 1

o   Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta:2002, cet 2,

o   Enksiklopedi Islam, PT, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta:1993, huruf 1

o   Dr. Ibrahim Hilal, Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, Sebuah Kririk Metodologis, terj, Pustaka Hidayah, Bandung:2002, cet 1

o   H.A. Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, (Jakarta:PT.Raja Grapindo Persada, 2002), cet 2







[1] Dr. Ibrahim Hilal, Tasawuf Antara Agama dan Filsafat, Sebuah Kririk Metodologis, terj, Pustaka Hidayah, Bandung:2002, cet 1, hal 111

[2] H.A. Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo Sufisme, (Jakarta:PT.Raja Grapindo Persada, 2002), cet 2 hal 143

[3] Dr, Ihsan Ilahi Dhahir, Sejarah Hitam Tasawuf, Latar Belakang Kesesatan Kaum Sufi, Dar al-FALAH, Jakarta:2001, cet 1, hal 128

[4] Ibid 128

[5] Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta:2002, cet 2, hal 132-133

[6] Enksiklopedi Islam, PT, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta:1993, huruf 1, hal 286-287

[7] Lihat kata-kata abu Yazid al-Bustami seperti ini dalam buku Syaikh Abdur rahman abdul Khalik, penyimpangagn-penyimpangan Tasawuf, terj Ahmad Misbach, (Jakarta: Rabbani Press, 2001), cet 1 hal 56

[8] Simuh, Op,Cit, hal 136

[9] Abu Mughits al-Husein bin Mansur al-Hallaj (244-309 H) DILAHIRKAN DI Persia, seorang ciu dari Zoroaster, dibesarkan di irak. Tokoh inilah yang terkenal dengan Hululiyyin dan ittihadiyyin.

[10] Prof.H.A. Rivay Siregar, Op-Cit, hal 156

[11] Simuh Op-Cit, hal 140-141

[12] Abujamin Roham, Pembicaraan Sekitar Bibel dan Qur`an, Jakarta:Bulan Bintang, 1984,cet 1, hal 159

[13] Ensiklopedi Islam, Loc,Cit
_________
* Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da'wah Mohammad Natsir Jakarta, Semester 7 Jurusan KPI.

0 komentar:

Poskan Komentar

Blog Archive