ASPEK MISTISME ATAU MISTISISME DALAM BUKU HARUN NASUTION


Oleh : Aep Jamaluddin & Ilham

Muqoddimah

Bila kita perhatikan dari awal hingga akhir dari buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” karya Harun Nasution, tentu kita (bagi yang Faham tentang kebenaran Islam) sudah bisa menilai arah pemikiran Harun yang menggiring para pembaca kepada nuansa berfikir yang tanpa Iman, atau bahkan bersifat menyudutkan Islam.

Dengan gaya berfikir orientalis dan ke-Barat-Baratan, Dr. Harun memaparkan materi-materi Islam dengan tanpa sadar atau mungkin sadar ternyata berefek dekstruktif. Bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang muslim yang memang seharusnya menjaga kemurnian dan kesuci Islam, dengan pandangan-pandangannya malah cenderung menjerumuskan dan bahkan menyesatkan.

Bisa kita saksikan, salah satunya dari buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”,  yang kini menjadi rujukan utama di Perguruan-Perguruan Tinggi Islam di Indonesia. Materi-materi yang ada di dalamnya, dalam setiap babnya sudah barang tentu terdapat hal-hal yang di titik beratkan padahal tidak begitu penting, atau bahkan rusak dan menyesatkan. Hal ini terjadi sebagaimana dikatakan oleh H.M. Rasyidi, bahwa sebenarnya Dr. harun belum mendapat pengertian yang sebenarnya tentang Islam.[1]

Diantara kekeliruannya adalah salah satunya seperti yang akan diurai dalam makalah ini yaitu BAB X dari buku IDBA, tentang “Aspek Mistisme dalam Islam”. Dr. Harun Nasution memaparkan materi ini dengan mencoba bersikap netral, seperti halnya dalam menguraikan materi-materi lainnya. Akan tetapi sikap inilah yang kemudian menimbulkan kegamangan dan kesimpulan-kesimpulan yang mengambang serta menumbukan keraguan pada khalayak pembaca tentang Islam.



Uraian Global Tentang Mistis

mistisme berasal dari kata mistis, berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).

Menurut buku De Kleine W.P. Encylopaedie (1950, Mr. G.B.J. Hiltermann dan Prof.Dr.P. Van De Woestijne halaman 971 dibawah kata mystiek) kata mistik berasal dari bahasa Yunani myein yang artinya menutup mata (de ogen sluiten) dan musterion yang artinya suatu rahasia (geheimnis). Sementara menurut istilahnya, yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.[2] Berdasarkan defenisi ini jelas terminology ini bukan berasal dari Islam. Karena Islam tidak mengajarkan hal yang demikian. Islam  bukan ajaran rahasia yang ajarannya serba rahasia, tersembunyi. Akan tetapi Islam adalah agama terbuka.

Mistisme dalam Pandangan Harun Nasution

Secara singkat, Harun menegaskan bahwa Mistisme dalam Islam secara khusus diistilahkan dengan kata al-tasawwuf atau sufisme. Artinya mistisme adalah sufisme dan sufisme adalah mistisme.

Tujuan Mistisme menurut Harun, baik yang di dalam maupun yang diluar Islam, ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseoarang berada di hadirat Tuhan. Intisari dari mistisme , termasuk dalam tasawwuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran itu selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan Tuhan dalam arti bersatu dengan Tuhan yang dalam istilah Arab disebut dengan ittihad dan istilah Inggris mystical union.[3] Penyataan seperti ini kemudian membuat Prof. Dr. H. M. Rasyidi menyimpulkan bahwa konten dari bab X dalam buku Harun tersebut menghendaki orang menjadi seorang Zahid.[4] Yaitu manusia yang hidupnya sepenuhnya berorientasi kepada Allah, dengan meninggalkan segala kesenangan duniawi.

Kesalahan-Kesalahan Pandangan Harun Nasution

Pada dasaranya ada banyak yang perlu dikoreksi dari tulisan Dr. Harun tentang Mistisme ini. Karena sebagaiman dikatakan oleh Bapak Rasyidi, bahwa Dr. harun Nasution belum mendapat pengertian yang sebenarnya tentang Islam.[5]



a)      Mistisme dikatakan oleh Harun sebagai Aspek dari pada Islam yaitu sesuatu yang bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dengan Tuhan. Tujuan mistisme ini sebagaimana yang tertulis dalam buku Harun adalah sbb: “ Tujuan dari mysticism baik yang di dalam maupun yang diluar Islam ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan.”[6]

b)     Dalam tasawuf terdapat maqom-maqom atau tingkatan-tingkatan sebagai jalan untuk mencapai tujuan ma’rifatullah. Jala-jalan tersebut Dr. Harun katakan dengan bahasa “stasion”, yang disebut dalam bahasa Arab “almaqamat”.[7]

c)      Terkait falsafah Al-Hallaj tentang al-Ittihad (persatuan dengan Tuhan), Dr. Harun menulis sbb: “ Menurut falsafahnya (al-Hallaj) Tuhan mempunyai sifat kemanusiaan dan manusia sendiri mempunyai sifat Ketuhanan, Nasut (ناسوت) dan Lahut ( لاهوة ).

Dasar filsafat ini ialah :

وَخَلَقَ آدَمَ عَلَى صُوْرَتِهِ

“Tuhan menciptakan Adam menurut bentuknya.”

Dengan demikian dalam Adam terdapat bentuk Tuhan dan selanjutnya dalam Tuhan terdapat pula bentuk Adam. Atas dasar ini persatuan antara manusia dan Tuhan dapat terjadi. Filsafat yang dibawa al-Hallaj disebut Al-Hullul.”[8]





Koreksi Terhadap Pandangan Dr. harun Nasution

1.      Tentang mistisme yang dijelaskan oleh Harun yang merupakan salah satu aspek dalam ajaran Islam tidaklah dapat diterima. Karena Islam tidak mengajarkan hal yang demikian. Terlepas dari ada sebagian umat Islam yang melukan hal tersebut tidak berarti ajaran tersebut benar dalam Islam.

2.      Tentang tujuan dari mistisme, bila dikatakan Tujuan dari mysticism baik yang di dalam maupun yang diluar Islam ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan.”[9] Memang tujuan dari mistisme ini baik. Namun hal yang bermasalah atau yang tidak dapat diterima adalah tatacaranya. Islam telah mengajarkan bagaimana berhubungan dengan Allah yakni dengan apa-apa yang telah diajarkan Allah melalui Rasul-Nya. Yakni dengan dengan peribadahan yang sesuai dengan tata cara yang Rasulullah ajarkan. Tidak dengan tata cara atau praktek yangdilakukan oleh kaum sufi yakni dengan zikir-zikir yang tidak pernah diajarkan, dengan menari-nari, serta pembagian syari’at, hakekat, thariqat dan ma’rifat serta berbagai bentuk tata cara lainnya yang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah Saw. Terlebih seperti yang dikatakan oleh Harun, tujuan dari sufisme itu sendiri supaya menjadi zahid. Perlu diketahui bahwa Zahid bukanlah sufi.[10]

3.      Kesalahan Harun adalah menghadirkan wacana tanpa kritis. Hanya memaparkan. Tidak memberkan komentar apakah ini betul atau tidak (menurut Islam). Atau cenderung mendukung. Hal ini terlihat dari pemaparan panjangnya mengenai Sufi berikut aliran-alirannya seperti al-Ittihad, Maqam-maqam, dan lain sebagainya. Tentunya ini sangat berbahaya karena dapat menyesatkan orang yang membacanya. Seoal-olah ajaran-ajaran ini merupakan ajaran Islam.

Pandangan Yang Benar Menurut Islam

   1. Islam tidak mengenal istilah mistisme. Yang ajarannya rahasia, sembunyi-sembunyi yang diketahui orang-orang tertentu. Islam adalah agama yang syumul, menyeluruh, tidak hanya untuk orang-orang tertentu saja.[11]
   2. tentang Sufi, terlepas dari berbagai macam defenisi mengenai sufi serta akar katanya, ada yang mengatakan ia berasal dari kata Shafa (bersih) ada pula yang mengatakan berasal dari kata Shuffah ( berarti serambi mesjid Nabawi di Madinah yang ditempati para shahabat Nabi yang hijrah) dan pendapat lainnya. Yang jelas sufi baru dikenal pada abad ke 7 dan ke delapan.[12] Sehingga ada yang cendrunng berpendapat bahwa sufi atau tasawwuf berasal dari Theosofi.[13] Meskipun tidak sedikit yang berpendapat lain yakni berasal dari Persia, karena diantara pemahaman sufi seperti Hulul dan wihdatul wujud itu kental dengan aroma Persia.[14]
   3. sudah menjadi hal yang ma’ruf dalam Islam bahwa menerangkan haq dan batil adalah suatu keharusan.  Firman Allah

و لتكم منكم أمة يدعون إلي الخير ويأمرون بالمعروف وينهون عن المنكر, وأولئك هم المفلحون

Artinya:  “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang yang beruntung.”

Menurut Ibnu Katsir ayat ini mengisyaratkan wajibnya untuk ber’amar ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar. Yang tidak hanya dilakukan dengan tangan akan tetapi dengan lisan dan hati.[15] Dan tentunya diantara hal tersebut termasuk menjelaskan perkara yang ma’ruf dan menjelaskan perkara yang mungkar.

Penutup

dari pemaparan di atas dapatlah kita tarik beberapa kesimpulan:

   1. Mistisme menurut Harun termasuk ajaran Islam. Sementara Islam tidak mengenal istilah tersebut. Berikut konsep-konsepnya seperti Sufi atau Tasawwuf, serta ajaran-ajarannya seperti hulul, ittihad, wihdatul wujud dan lain sebagainya.  Islam hanya mengenal istilah tazkiyah an-Nafs (pensucian jiwa).  Dan hal tersebut jelas dalilnya.
   2. sudah menjadi hal yang lumrah dalam setiap pemaparan oleh Harun dalam bukunya Maetodologi Studi Islam menggunakan gaya bahasa orientalis, seperti istilah-istilah yang tidak dikenal dalam Islam, menjelaskan tanpa menerangkan mana benar mana salah. Seperti halnya pada bab Mistisme ini. Pemaparan yang Harun lakukan sama sekali tidak menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga seolah-olah hal tersebut memang diakui dalam Islam.

Daftar Pustaka

Rasyidi, H. M. Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, Jakarta : PT Bulan Bintang, 1989, Cet. III, hal. 123

Nasution, Harun,  Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, Jakarta : Penerbit universitas Indonesia, 2009, Cet. 5 , hal. 68

Abu Yazid, Romly Qomaruddin.,”Memahami Manhaj Islam membedah Ummahatul FIraq”., Bekasi: Albahr Press., 2008., Cet. I., Hl. 83

Jawwaz., Yazid bin Abdul Qadir, “ Prinsip-Prinsip Dasar Islam”., Bogor: Pustaka At-Taqwa., 2007., Cet. IV.,

Ibnu Katsir, “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim”, Tt, Maktabah Al-‘Asriyah, Jilid I, 3200m/1420H

http://id.wikipedia.org/wiki/Mistisisme



[1] H. M. Rasyidi, Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution Tentang “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya”, Jakarta : PT Bulan Bintang, 1989, Cet. III, hal. 123

[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Mistisisme

[3] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Jilid II, Jakarta : Penerbit universitas Indonesia, 2009, Cet. 5 , hal. 68

[4]  Op., Cit.,  H. M. Rasyidi,  hal. 124

[5] Ibid., hal.123

[6] Op. Cit.,Harun nasution, hal. 68

[7] Ibid., hal. 76

[8] Ibid., hal. 84

[9] Op. Cit.,Harun nasution, hal. 68

[10] Seseorang yang menempuh jalan zuhud,mkaa disebut zahid. Makna zuhud ini menurut ibnu Taimiyah yakni meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat, yang sejalan dengan firman Allah: dan carilah olehmu apa yang Allah berikan dari kebahagiaan negri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagian yang Allah berikan dari kenikmatan dunia.. QS: 28:77. maka jelas berbeda dengan konsep sufi yang meninggalkan segala kenikmatan dunia. Lihat: Romly Qomaruddin Abu Yazid.,”Memahami Manhaj Islam membedah Ummahatul FIraq”., Bekasi: Albahr Press., 2008., Cet. I., Hl. 83

[11] Yazid bin Abdul Qadir Jawwaz., “ Prinsip-Prinsip Dasar Islam”., Bogor: Pustaka At-Taqwa., 2007., Cet. IV.,  Hal. 26

[12] Romly Qomaruddin Abu Yazid.,”Op Cit”., Hal. 66

[13] ibid

[14]  Ibid hal. 67

[15] Ibnu Katsir, “Tafsir Al-Qur’an Al-‘Adzim”, Tt, Maktabah Al-‘Asriyah, Jilid I, 3200m/1420h, Hal.  342


5/Post a Comment/Comments

  1. g nyangka kalau harun itu pemikirannya bahaya.. thanks atas tulisannya..

    BalasHapus
  2. harun itu orang seorang pembaharu, yang membongkar semua kejumudan umat Islam..
    kenapa dikatakan sesat???

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. TULISAN TIDAK OBYEKTIF, MENYALAHKAN DAN MENGHAKIMI. SERTA SARAT DENGAN ISTILAH2 YANG KELIRU. MISAL MISTISME DISAMAKAN DENGAN MISTIS

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama