Select Menu

Kristologi

Wisata

Kristenisasi

Akhlaq

Kerajaan

Dunia Islam

Akidah

Skandal Seks Gereja Belum Habis: Terungkap Lagi Pastur Cabul AS

Rabu, 31 Mar 2010


WASHINGTON (voa-islam.com) – Seakan belum cukup skandal seks mewarnai gereja Vatikan, satu lagi kasus pelecehan seksual terungkap. Pelakunya adalah seorang pastur di AS.

Pastur Ernesto Garcia Rubio terlibat dalam sejumlah tindak pencabulan di AS. Lebih dari lima orang korban melaporkan tindakan tak beradab ini. Kuasa hukum dari seorang korban pendeta Garcia, mengirimkan sebuah dokumen yang dilansir news.com.au, Rabu (31/3/2010).

Korban yang berjenis kelamin laki-laki tersebut melalui kuasa hukumnya mengaku dicabuli saat remaja. Informasi lain menyebutkan duta besar Vatikan di AS, Papal Nuncio, diminta pihak gereja Miami untuk melindungi Pendeta Garcia setelah pindah dari Kuba sejak 1968, usai pelanggaran moral yang dilakukannya.

“Ia pengurus di Miami sekitar 30 tahun dan selama itu pun kita mengetahui ribuan korban yang pernah dia cabuli,” ungkap Jessica Arbour, kuasa hukum dari seorang korban pencabulan yang tak ingin disebutkan namanya.

Kasus ini telah bergulir ke pengadilan Miami tahun lalu dan sebuah pernyataan di internet menyebutkan perkataan direktur komunikasi dari Archdiocese Miami, Mary Ross Agosta, bahwa tim kuasa hukum korban tidak mengerti kinerja di gereja.

Agosta malah mengatakan gereja di Miami justru mengutamakan perhatian terhadap seluruh kasus kekerasan terhadap anak. Arbour juga menuding Paus Benediktus XVI melindungi pelaku pedofil saat masih menjabat sebagai Uskup Agung di Roma. Hingga kini, belum ada keterangan dari pihak Vatikan mengenai laporan ini. [taz/inlh]

Fakta Ilmiah: Mukjizat Nabi Muhammad Membelah Bulan


KISAH ini diceritakan oleh Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar (pakar Geologi Muslim) tentang pengalaman seorang pemimpin Al-Hizb al-Islamy Inggris yang masuk Islam karena takjub dengan kebenaran terbelahnya bulan.

Allah berfirman: “Sungguh telah dekat hari qiamat, dan bulan pun telah terbelah" (QS. Al-Qamar 1).

Apakah kalian akan membenarkan kisah dari ayat Al-Quran ini yang menyebabkan masuk Islamnya pimpinan Hizb Islami Inggris?

Di bawah ini adalah kisahnya:
Dalam temu wicara di televisi bersama pakar Geologi Muslim, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar, salah seorang warga Inggris mengajukan pertanyaan kepadanya, apakah ayat dari surat al-Qamar di atas memiliki kandungan mukjizat secara ilmiah?

Maka, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawabnya sebagai berikut: Tentang ayat ini, saya akan menceritakan sebuah kisah. Sejak beberapa waktu lalu, saya mempresentasikan di Univ. Cardif, Inggris bagian barat, dan para peserta yang hadir bermacam-macam, ada yang muslim dan ada juga yang bukan muslim. Salah satu tema diskusi waktu itu adalah seputar mukjizat ilmiah dari al-Quran. Salah seorang pemuda yang beragama muslim pun berdiri dan bertanya, “Wahai Tuan, apakah menurut anda ayat yang berbunyi, “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah”, mengandung mukjizat secara ilmiah?”

Maka saya menjawabnya: Tidak, sebab kehebatan ilmiah diterangkan oleh ilmu pengetahuan, sedangkan mukjizat tidak bisa diterangkan ilmu pengetahuan, sebab ia tidak bisa menjangkaunya. Dan tentang terbelahnya bulan, maka itu adalah mukjizat yang terjadi pada Rasul terakhir Muhammad Saw. sebagai pembenaran atas kenabian dan kerasulannya, sebagaimana Nabi-nabi sebelumnya.

Mukjizat yang kelihatan, maka itu disaksikan dan dibenarkan oleh setiap orang yang melihatnya. Andai hal itu tidak termaktub di dalam kitab Allah dan hadits-hadits Rasulullah, maka tentulah kami para muslimin di zaman ini tidak akan mengimani hal itu. Akan tetapi, hal itu memang benar termaktub di dalam al-Quran dan sunnah-sunnah Rasulullah Saw.

Allah ta’alaa memang benar-benar Maha berkuasa atas segala sesuatu. Maka, Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar pun mengutip sebuah kisah Rasulullah membelah bulan. Kisah itu adalah sebelum hijrah dari Makkah Mukarramah ke Madinah. Orang-orang musyrik berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu (mengejek dan mengolok-olok)?”
...Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka, Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya...
Rasulullah bertanya, “Apa yang kalian inginkan ? Mereka menjawab: Coba belah bulan”. Maka, Rasulullah pun berdiri dan terdiam, lalu berdoa kepada Allah agar menolongnya. Lalu, Allah memberitahu Muhammad agar mengarahkan telunjuknya ke bulan. Maka, Rasulullah pun mengarahkan telunjuknya ke bulan dan terbelahlah bulan itu dengan sebenar-benarnya. Maka, serta-merta orang-orang musyrik pun berujar, “Muhammad, engkau benar-benar telah menyihir kami!” Akan tetapi, para ahli mengatakan bahwa sihir memang benar bisa saja “menyihir” orang yang ada disampingnya, akan tetapi tidak bisa menyihir orang yang tidak ada di tempat itu. Maka, mereka pun menunggu orang-orang yang akan pulang dari perjalanan. Lalu, orang-orang Quraisy pun bergegas menuju keluar batas kota Makkah menanti orang yang baru pulang dari perjalanan.

Dan ketika datang rombongan yang pertama kali dari perjalanan menuju Makkah, orang-orang musyrik pun bertanya, “Apakah kalian melihat sesuatu yang aneh dengan bulan?” Mereka menjawab, “Ya, benar. Pada suatu malam yang lalu kami melihat bulan terbelah menjadi dua dan saling menjauh masing-masingnya kemudian bersatu kembali…”.


Akhirnya, sebagian mereka pun beriman sedangkan sebagian lainnya lagi tetap kafir (ingkar). Oleh karena itu, Allah menurunkan ayat-Nya: Sungguh, telah dekat hari qiamat dan telah terbelah bulan. Ketika melihat tanda-tanda kebesaran Kami, merekapun ingkar lagi berpaling seraya berkata, “Ini adalah sihir yang terus-menerus”, dan mereka mendustakannya, bahkan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan setiap urusan benar-benar telah tetap …. (sampai akhir surat Al-Qamar).

Ini adalah kisah nyata, demikian kata Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar. Dan setelah selesainya Prof. Dr. Zaghlul menyampaikan hadits nabi tersebut, berdiri seorang muslim warga Inggris dan memperkenalkan diri seraya berkata, “Aku Daud Musa Pitkhok, ketua Al-Hizb al-Islamy Inggris.

Wahai tuan, bolehkah aku menambahkan?” Prof. Dr. Zaghlul Al-Najar menjawab: Dipersilahkan dengan senang hati.” Daud Musa Pitkhok berkata, “Aku pernah meneliti agama-agama (sebelum menjadi muslim), maka salah seorang mahasiswa muslim menunjukiku sebuah terjemahan al-Quran yang mulia. Aku pun berterima kasih kepadanya dan membawa terjemah itu pulang ke rumah. Ketika aku membuka-buka terjemahan al-Quran itu di rumah, surat yang pertama aku buka ternyata al-Qamar. Dan aku pun membacanya: “Telah dekat hari qiamat dan bulan pun telah terbelah… “.

Aku pun bergumam: “Apakah kalimat ini masuk akal? Apakah mungkin bulan bisa terbelah kemudian bersatu kembali? Andai benar, kekuatan macam apa yang bisa melakukan hal itu? Maka, aku pun menghentikan pembacaan ayat-ayat selanjutnya dan aku menyibukkan diri dengan urusan kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, Allah Maha Tahu tentang tingkat keikhlasan hamba-Nya dalam pencarian kebenaran.

suatu hari aku pun duduk di depan televisi Inggris. Saat itu ada sebuah diskusi di antara presenter seorang Inggris dan 3 orang pakar ruang angkasa AS. Ketiga pakar antariksa tersebut pun menceritakan tentang dana yang begitu besar dalam rangka melakukan perjalanan ke antariksa, padahal saat yang sama dunia sedang mengalami masalah kelaparan, kemiskinan, sakit dan perselisihan. Presenter pun berkata, ” Andai dana itu digunakan untuk memakmurkan bumi, tentulah lebih banyak berguna”. Ketiga pakar itu pun membela diri dengan proyek antariksanya dan berkata, “Proyek antariksa ini akan membawa dampak yang sangat positif pada banyak segmen kehidupan manusia, baik segi kedokteran, industri, dan pertanian. Jadi pendanaan tersebut bukanlah hal yang sia-sia, tetapi justru dalam rangka pengembangan kehidupan manusia.

Dan, di antara diskusi tersebut adalah tentang turunnya astronot menjejakkan kakinya di bulan, di mana perjalanan antariksa ke bulan tersebut telah menghabiskan dana tidak kurang dari 100 juta dollar. Mendengar hal itu, presenter terperangah kaget dan berkata, “Kebodohan macam apalagi ini, dana begitu besar dibuang oleh AS hanya untuk bisa mendarat di bulan?”

Mereka pun menjawab, “Tidak, !!! Tujuannya tidak semata menancapkan ilmu pengetahuan AS di bulan, akan tetapi kami mempelajari kandungan yang ada di dalam bulan itu sendiri, maka kami pun telah mendapat hakikat tentang bulan itu, yang jika kita berikan dana lebih dari 100 juta dollar untuk kesenangan manusia, maka kami tidak akan memberikan dana itu kepada siapapun.

Maka presenter itu pun bertanya, “Hakikat apa yang kalian telah capai sehingga demikian mahal taruhannya? Mereka menjawab, “Ternyata bulan pernah mengalami pembelahan di suatu hari dahulu kala, kemudian menyatu kembali.!!! Gambar ini di foto dari pesawat ulang alik NASAPresenter pun bertanya, “Bagaimana kalian bisa yakin akan hal itu?” Mereka menjawab, “Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Lalu, kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah kemudian bersatu kembali”.
...“Kami mendapati secara pasti dari batuan-batuan yang terpisah terpotong di permukaan bulan sampai di dalam (perut) bulan. Lalu, kami pun meminta para pakar geologi untuk menelitinya dan mereka mengatakan, “Hal ini tidak mungkin telah terjadi kecuali jika memang bulan pernah terbelah kemudian bersatu kembali”...
Mendengar paparan itu, ketua Al-Hizb Al-Islamy Inggris mengatakan, “Maka aku pun turun dari kursi dan berkata, “Mukjizat (kehebatan) benar-benar telah terjadi pada diri Muhammad Saw. 1400-an tahun yang lalu. Allah benar-benar telah mengolok-olok AS untuk mengeluarkan dana yang begitu besar, 100 juta dollar lebih, hanya untuk menetapkan akan kebenaran muslimin !!!! Maka, agama Islam ini tidak mungkin salah.

Maka, aku pun berguman, “Maka, aku pun membuka kembali Mushhaf al-Quran dan aku baca surat Al-Qamar, dan … saat itu adalah awal aku menerima dan masuk Islam.

Mahabenar Allah dengan segala Firman-Nya. [adrian/voa-islam.com]

Tautan Video tentang Prof. Dr. Zaghlul Al Najjar:
  1. The Scientific Precision of the Qur'a
  2. Scientific Miracles in theQur'an Prof Dr. Zaghloul el-Naggar
Catatan Redaksi :
Mengenai data terbelahnya bulan apakah fakta ataukah fiktif, para ilmuwan memang ada yang kontra dan banyak pula yang pro. Pro dan kontra ini terletak pada interpretasi terhadap gambar foto permukaan bulan yang menunjukkan kanal panjang di permukaan bulan.

Mengenai kebenaran berita tersebut, kami tidak berani berspekulasi, wallahu a'lam mana yang benar. Kami muat artikel "Mukjizat Terbelah" (Arab: Shaqq  al-Qamar, Inggris: Moon Rille) di Citizen Journalism dengan banyak pertimbangan. Antara lain, karena sebelumnya artikel tersebut --atau yang serupa dengan artikel tersebut-- sudah pernah dipublikasikan di berbagai media, antara lain:
1. Majalah Qiblati Vol. 01/ No.05-Januari 2006 dengan judul "Bulan memang Terbelah."
2. Koran Republika, Jumat, 27 Februari 2009 dengan judul "Bulan Terbelah Memang Pernah Terjadi."
3. Majalah FOKKAL terbitan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Volume 7 Nomor 1 2007, dengan judul “Benarkah Bulan Pernah Terbelah?”

Terlepas dari kontroversi tersebut, kita wajib meyakini adaya mukjizat Rasulullah yang menunjukkan bahwa bulan terbelah yang dikaitkan dengan asbabun nuzul QS 54:1-2. Bisa dibuktikan atau tidak pada zaman sekarang ini, mukjizat tersebut harus kita imani, karena ada nasnya. Sebagaimana pula dengan mu’jizat Nabi Musa AS membelah laut Merah, kita yakini benar terjadi karena disebutkan dalam kisah Nabi Musa dapat menyeberanginya, walaupun kita bidak bisa membuktikan mekanisme fisisnya.



Menangkis Tuduhan Kafir: Islam Menyamakan Derajat Wanita dan Anjing?


SEJAK kemunculan dakwah Islam, para musuh Islam baik dari kalangan kafir orientalis maupun orang Islam yang jahil secara sengaja maupun tidak telah berusaha menghancurkan atau menodai Islam.

Di antaranya adalah dengan melontarkan bermacam tuduhan terhadap Islam yang tujuannya untuk mengaburkan ajaran Islam yang suci sehingga kaum muslimin jauh dan menjadi ragu terhadap agama mereka sendiri yang akhirnya mereka murtad dari Islam.

Di antara tuduhan tersebut adalah bahwa Islam merendahkan martabat wanita dan tidak menghormati mereka. Bahkan sebagian berhujjah dengan sebagian nas-nas Al-Qur’an maupun hadits nabawi untuk menguatkan tuduhan tersebut .

Tentu hal ini bertolak belakang dengan tujuan Islam itu sendiri yaitu menjadikan manusia kaum lelaki maupun wanita sama di hadapan Allah. Islam telah memperlakukan mereka dengan seadil-adilnya karena ia datang dari Dzat Yang Maha Adil. Mereka tidak akan memahami keadilan dan penghormatan Islam kepada wanita hingga mereka mengerti betul bagaimana keadaan wanita sebelum datangnya Islam ketika mereka mengalami penindasan, diskriminasi, pelecehan dan sebagainya.

Salah satu tuduhan mereka adalah Islam menyamakan kaum wanita dengan keledai dan anjing, bahkan mereka membawakan hadits yang shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam namun dengan pemahaman keliru. Hadits tersebut adalah:
عن عبد الله بن الصامت، عن أبي ذر رضي الله عنه ، قال: قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم : يَقْطَعُ صَلاَةَ الرَّجُلِ؛ إِذَا لَمْ يَكُنْ بَيْنَ يَدَيْهِ قِيدُ آخِرَةِ الرَّحْلِ( 1 ): الحِمَارُ، وَالكَلْبُ الأسْوَدُ، وَالمرْأةُ.

فَقُلْتُ: ماَ بَالُ الأسْوَدِ، مِنَ الأحْمَرِ، مِنَ الأصْفَرِ، مِنَ الأبْيَضِ؟ قَالَ: يَا ابْنَ أخِي! سَألْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا سَألْتَني، فَقَال: الكَلْبُ الأسْوَدُ شَيْطَانٌ.

رواه مسلم  {4/228}.
Dari Abdullah bin Shamit dari Abu Dzar radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat seorang laki- laki muslim –apabila tidak ada pembatas seperti pelana kuda– dapat dibatalkan oleh: keledai, anjing hitam, dan wanita.”

Lalu saya pun bertanya: “Mengapa dengan anjing hitam, bukannya yang merah, kuning ataupun putih?” Maka beliau menjawab: “Ya anak saudaraku, aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang hal itu, lalu beliau menjawab, “Anjing hitam adalah setan” HR Muslim (4/228).
قالت عائشةُ رضي الله عنه -وذُكِرَ عندها ما يقطع الصلاة-: شبَّهْتُمُونَا بِالحُمُرِ وَالكِلاَبِ؟! وَاللهِ! لَقَدْ رَأيْتُ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي، وَإِنِّي عَلى السَّرِيرِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ القِبْلَةِ مُضْطَّجِعَةٌ، فَتَبْدُو لي الحَاجَةُ، فَأكْرَهُ أنْ أجْلِسُ فَأوذِيَ النَّبيَّ صلى الله عليه وسلم ، فَأنْسَلُّ مِنْ عِنْدِ رِجْلَيْهِ.

رواه البخاري [1/773]، ومسلم [4/229[
Ketika diceritakan mengenai hal yang membatalkan shalat tersebut di hadapan ‘Aisyah, beliau berkata: “Kalian menyerupakan kami dengan keledai dan anjing! Demi Allah, sungguh aku pernah melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat, dan sungguh aku berada di atas ranjang berbaring di hadapan beliau, lalu aku punya keperluan, dan aku benci untuk duduk sehingga mengganggu shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,” (HR Bukhari (1/773) dan Muslim (4/229).

Jika kita cermati hadits di atas menunjukkan bahwa wanita tidak membatalkan shalat seseorang, kalau berbaring di hadapannya saja tidak membatalkan apalagi lewat?

Adapun keledai telah diriwayatkan dalam haditsnya Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma:
عن عبدالله بن عباس أنه قال: أقبلت راكبا على حمار أتان، وأنا يومئذ قد ناهزت الاحتلام، ورسول الله صلى الله عليه وسلم يصلى بالناس بمنى إلى غير جدار، فمررت بين يدى بعض الصف، فنزلت وأرسلت الأتان ترتع، ودخلت فى الصف، فلم ينكر ذلك على أحد(
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhu berkata: Aku datang dengan seekor keledai betina, ketika itu aku telah baligh, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat bersama manusia di Mina tanpa ada dinding untuk sutrah, lalu aku lewat di hadapan shaf, laku aku turun dan membiarkan keledaiku mencari makan, namun tidak seorang pun mengingkariku) HR Bukhari (1/751) dan Muslim (4/221).

Hadits di atas menguatkan bahwa lewatnya keledai di hadapan orang shalat tidak membatalkan shalatnya.

Imam Nawawi  dalam mensyarah hadits di atas mengatakan:

Adanya perbedaan antara kedua hadits ini menyebabkan para ulama berbeda pendapat terhadap masalah ini. Sebagian mereka mengambil hadits Abu Hurairah; sebagian lagi mengambil pendapat Aisyah. Imam Nawawi berkata, "Para ulama berbeda pendapat seputar hadits ini. Sebagian mereka berpendapat bahwa shalat terputus oleh wanita, keledai, dan anjing." (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 4, hlm. 473).

Kemudian beliau (Imam Nawawi) melanjutkan pernyataannya:

Mayoritas ulama memandang hal ini tidak membatalkan shalat. Dalam kitab Syarah Shahih Muslim disebutkan, "Malik, Abu Hanifah, Syafi'i rahimahumullah, dan mayoritas ulama dari kalangan salaf (terdahulu) dan khalaf (belakangan) berpendapat bahwa shalat tidak batal karena melintasnya salah satu dari ketiga faktor di atas, ataupun yang lainnya. Mereka menginterpretasikan bahwa makna "terputus" dalam hadits adalah kurangnya nilai shalat karena hati sibuk dengan hal ini, dan tidak berarti membatalkannya." (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, juz 4, hlm. 474).

Sedangkan At-Tirmidzi rahimahullahu menceritakan dari Ahmad bahwa beliau hanya mengkhususkan anjing hitam. Sementara  keledai dan wanita, beliau tawaqquf (mendiamkan, tidak memberikan pendapat, apakah membatalkan ataukah tidak, pent.).” (Nailul Authar, 3/14)

Memang dalam masalah ini didapatkan dua riwayat dari Al-Imam Ahmad rahimahulah. Kedua riwayat tersebut bersepakat bahwa anjing hitam dapat memutuskan shalat seseorang, namun kedua riwayat ini berselisih dalam masalah wanita dan keledai. Dalam satu riwayat beliau memastikan bahwa wanita dan keledai tidak memutus shalat. Dalam riwayat lain, beliau ragu.

Riwayat yang pertama yaitu riwayat putra beliau bernama Abdullah dalam Masa`il-nya (1/340). Abdullah berkata, “Aku pernah bertanya kepada ayahku, ‘Apa saja yang dapat membatalkan shalat?’ Jawab beliau, ‘Anjing hitam, Anas radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan bahwa yang dapat memutus shalat adalah anjing, wanita, dan keledai. Adapun tentang wanita, maka aku berpendapat dengan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Jadi, menurut sebagian ulama termasuk Imam Ahmad bahwa hadits wanita dan keledai telah mansukh, namun yang masih berlaku adalah untuk anjing hitam.

Adapun para ulama yang mengamalkan hadits pembatal di atas pun mereka mengatakan bahwa ini tidak bermaksud menyamakan wanita dengan keledai maupun anjing hitam. Itu adalah tuduhan yang keji kepada Islam dan bahkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’alaa. Wallahu A’lam Bishowab. [abu roidah/voa-islam]



SEJARAH PERKEMBANGAN GEREJA


Karena sengketa sengit itu Paulus bersama Silas meninggalkan kota-besar Antiokia untuk selama-lamanya (Kisah Rasul-Rasul, 15:40-41) menuju Asia Kecil dan Makedonia dan semenanjung Achaia (Grik) guna mengembangkan ajarannya dalam lingkungan orang Grik dan mereka itulah yang disebut dengan Gentile Christians (Orang kristen Asing).

Sebutan itu lahir dalam dunia kristen untuk membedakan kelompok Pengikut yang Baru itu dengan Kristen Petama, Early Christians, yakni para pengikut Jesus Kristus yang mula-mula dalam lingkungan masyarakat Yahudi di Palestina, yang disebut dengan Nazarenes itu.

Para pengikut yang pertama diyakini telah musnah sebagian besarnya pada masa pemberontakan total bangsa Yahudi di Palestina terhadap penindasan imperium Roma, yang berlangsung sepuluh tahun lamanya, yaitu antara tahun 65 sampai 75 masehi. Legiun X dari pihak Roma melakukan pembunuhan-pembunuhan massal (massacre) pada perkampungan-perkampungan Yahudi di seluruh Palestina, kecuali yang sempat melarikan diri ke lembah Mesopotamia dan Arabia Selatan dan berbagai wilayah lainnya.

Semenjak pemberontakan total yang gagal itulah dikenal dalam sejarah bangsa Yahudi dengan Great Diaspora, yakni masa memencar tanpa tanah air. Pada masa yang sangat tragis itu diyakini kelompok-kelompok pengikut Jesus yang pertama-tama (Early Christians) ikut musnah. Kecuali kelompok kecil yang sempat melarikan dirinya ke kota Pella di seberang sungai Jordan, yang pada masa belakangan dikenal dengan sekte Ebionites yang mempunyai Injil sendiri yang dikenal dalam sejarah dengan Ebionite Gospel (Injil Ebionites), yang isinya jauh berbeda dengan Injil-Injil yang menjadi pegangan dunia kristen pada masa berikutnya dan kini.


Pemisahan Yahudi dengan Kristen
Pemisahan antara ajaran Yahudi dan Kristen mulai nyata, dan akhirnya tidak dapat dihindari lagi. Para penganut kristen tidak lagi merayakan hari-hari besar Yahudi serta tidak lagi mempertahankan tradisi dan budaya Yahudi. Pemisahan ini diakui pada Dewan Yerussalem pada tahun 48 M. Kira-kira pada tahun-tahun awal inilah gereja sudah terbentuk. Gereja dibentuk untuk mengorganisasikan gerakan pengembangan ajaran kristen dan Yerussalem adalah pusat pergerakan tersebut. Tapi Yerussalem juga pusat suci bagi Yahudi. Namun kaum Yahudi yang menguasai Yerussalem, memperlihatkan sikap permusuhan yang makin lama makin terbuka terhadap gereja dan pengikut Kristen, mendorong terjadinya pemindahan pusat pengajaran Kristen dari kota tersebut kekota-kota lain. Mulanya ke Antiokia lalu kemudian bergeser ke Roma.

Pada awalnya ajaran Kristen, merupakan ajaran yang tidak diberi tempat oleh penguasa untuk berkembang. Selama 200 tahun ajaran Kristen adalah doktrin yang illegal bagi pemerintahan yang berkuasa. Agama ini berkembang sangat sulit akibat tekanan dahsyat oleh penguasa. Sejarah mencatat Kaisar Nero dan Kaisar Domitian (81-96 M) adalah penguasa Romawi yang sangat bengis kepada penganut Kristen. Pembunuan kejam dilakukan oleh Kaisar Nero pada tahun 64 M, melalui tuduhan bahwa kebakaran kota Roma disebabkan oleh orang-orang Kristen. Petrus dan Paulus, dibunuh mati pada masa-masa sulit ini.
Perubahan kearah lebih baik terjadi dimasa pemerintahan Kaisar Konstantin, yang memberikan hak legal kepada oang-orang Kristen pada tahun 313 M.

Selama 3 abad, dalam agama Kristen terjadi perkembangan yang bertentangan, yang makin lama makin besar. Secara umum, pengikut Kristen terbagi atas 2 kelompok, yaitu kelompok yang mempercayai Paulus dengan ajaran nya yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan itu sendiri. Kepercayaan kelompok tahun demi tahun berkembang menjadi kepercayan Trinitas. Kelompok lain yang menentang Paulus dan tetap yakin dengan kepercayaan bahwa Yesus hanyalah seorang utusan Tuhan saja, tanpa embel-embel ketuhanan yang melekat pada dirinya. Pertentangan pada kedua kelompok ini makin meruncing dan dianggap oleh penguasa akan dapat membahayakan kekuakasaan Kaisar Romawi yang berkuasa waktu itu.

Setelah ajaran Kristen diakui secara legal oleh penguasa Romawi, masalah pertama pertama yang harus adalah masalah Trinitas. Sehingga akhirnya atas perintah Konstantin, dilangsungkan pertemuan akbar antara kelompok-kelompok ini, di kota Nicea, pada thn 325 M.

Pemisahan Gereja Barat dengan Gereja Timur
Masalah politik antara Romawi Barat yang berpusat di Roma dan Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel, makin tidka dapat dibendung, sehingga akhirnya benar-benar terpisah. Hal ini menjadi salah satu terjadi pemisahan Gereja Barat dan Gereja Timur. Pemisahan Gereja Timur dengan Gereja Barat, tidak dapat dielakkan lagi, ketika Gereja Timur, menolak sahadat tambahan, yang menyatakan Roh Kudus diturunkan dari Allah Bapa dan Anak. Bagi gereja Timur, Anak tidak ikut menurunkan Roh Kudus, hanya Bapa saja. Pemisahan ini tejadi padatahun 1054. Sejak itu muncullah Gerea Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Yunani. Unsur-unsur doktrinal membuat kedua gereja ini tetap terpisah. Gereja Katolik dipimpin oleh satu tampuk pimpinan yang disebut Paus, sementara Gereja ortodoks menyerahkan kepemimpinan ketangan para Bishop atau Patriakh.

Gereja Katolik tetap berperan penting hingga abad pertengan. Tetap berpusat di Roma, dan Paus tetap pemegang kekuasaan tertinggi, yang melampaui Raja dan Ratu. Namun sejak akhir abda ke-14, mulailah timbul tantangan terhadap kekuasaan Paus yang begitu besar dan otoriter dalam agama.



Munculnya Gereja Protestan dan Gereja-Gereja Lain
Gerakkan reformasi pertama terhadap Gereja Katolik, dimulai oleh Lollards dan Hussites, yang kemudian berubah menjadi ancaman serius terhadap supremasi Gereja Katolik, ketika pada tahun 1517, seorang Imam bernama Martin Luther menentang keras penjualan suarat pengampunan dosa oleh gereja. Dia juga menolak supremasi Paus, menyangkal substantiation, serta mendorong para bangsawan Jerman untuk memisahkan kekuasaan mereka. Dan bangswan yang selama ini terkekang oleh supremasi Paus, hanya butuh sedikit dorongan saja untuk kemudian memisahkan diri dari bayangbayang kekuasaan Paus. Banyak diantara para bangsawan ini yang lalu bergabung dengan Martin Luther. Disinilah awal bedirinya Gereja Protestan, sebagai tandingan terhadap Gereja Katolik.

Tindakan Luther merupakan awal dari timbulnya berbagai sekte yang didasari kepada doktrin pokok Luther
Dalam perkembangannya yang tidak begitu lama, Lutherpun akhirnya bertentangan dengan bekas pendukungnya menentang kekuasaan Paus, yaitu Zwingli. Zwingli mengembangkan pandangan Eukaristi.
Ajaran Luther yang menentang Gereja yang memberikan lembaran pengampunan Dosa, yang kemudian diselewengkan dengan penualan lembaran tersebut. Ajaran Luter, kemudian diformalisasikan dalam Gereja Lutheran.

Pengaruh reformasi ini segera menyebar ke seluruh Eropa. Seorang pebaharu lain, bernama John Calvin, memisahkan diri dari Gereja Katolik tahun 1533. Pandangan Calvin hampir sama dengan Lutheran , namun dia yakin bahwa ada karunia tertentu untuk kelompok tertentu. Pengikut Calvin menyebar di Jerman, Belanda, Skotlandia, Swiss dan Amerika Utara, dan cukup berpengaruh di Inggriss.

Di Inggris, anjuran para pembaharu juga diikuti oleh Raja Hendry VII pada tahun 1521, dengan mengeluarkan traktat yang menyerang Luther. Hal ini sempat membuat Roma bangga , dan Paus memberinya gelar �Pembela Iman�. Namun ternyata motif Raja hendry berbeda. Sang raja ingin menikahi Puteri Anne Boleyn. Namun sbelum bisa menikahi puteri ini, dia harus menceraikan Catherine of Aagon. Sayangnya Paus tidak merestui perceraian ini dan Hendry terpaksa mengabaikan kekuasaan Paus, pada tahun 1543, lalu menyatakan dirinya sebagai Kepala Gereja Inggris. Dengan begitu dia dapat membatalkan perkawinannya dengan Catherine. Ajaran �39 Pasal� yang menyangkut hal-hal yang kontrvesial serta mengungkapkan bagaiman kedudukan Gereja Ingriss mengenai masalah perceraian, dikeluarkan tahun 1571, selama pemerintahan Ratu Elizabeth I. Gereja Ingrris mengakui kerajaan sebagai kepala gereja, bukan Paus. Juga meolak tanssubstiation, meniadakan biara dan menggantikan bahasa Latin dengan bahasa Inggris untuk dipakai di gereja. Pertentangan paling ektrim dengan Roma terjadi pada abad ke-17 M, dimana George Fox dari Leichestershire Inggris, mulai menyebarkan ajaran bahwa manusia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa perlu riual-ritual yang ditetapkan oleh Gereja Katolik. George Fox, menyatakan tidak perlu ke 7 jenis sakramen dalam Katolik. Tidak dibutuhkan sakramen apapun. Awal berdirinya keyakinan baru ini, dianggap pada tahun 1652 M, pada saat terjadinya kebaktian pertama.

Masih di Ingriss, kemudian berdiri Gereja Baptist, yang didirikan oleh John Smith. Mereka menentang pembaptisan bayi, karena menganggap pembaptisan bayi menentang perintah Alkitab. Menurut pendapat mereka, hanya orang dewasa yang telah mengerti makna sumpah yang telah diucapkannya yang dapat dipabtis.

Di Amerika Serikat juga terjadi gejolak keagamaan. Pada tahun 1830, Mormon, atau Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Hari Terakhir, dibentuk oleh Joseph Smith (1805-1844). Joseph Smit mengklaim telah mengalami wahyu Tuhan . Pada mulanya ajaran Mormon terlarang, karena dianggap menyimpang dai ajaran kristen dan praktek-praktek poligami mereka. Tetapi ajaran ini merayap ke seluruh Amerika dan akhirnya menenatap di kota Salt Lake, tempat mabes mereka sampai kini.


Masih ada kelompok lain, yaitu Christian Sciene, Saksi Jehova dan Pantekosta. Vchristian Science didirikan oleh Mrs. Marry Baker Eddy tahun 1879, yang menyatakan bahwa satu-satunya realitas adalah pikiran, sdangkan yang lainnya adalah illusi.

Saksi Jehova, adalah Gereja berikutnya, yang didirikan oleh C.T.Russell. Penganut ajaran ini, percaya bahwa kedatangan yesus yang kedua kalinya akan terjadi dalam waktu yang tidak lama lagi. Hanya kelompok mereka saja yang akan diselamatkan pada kedatangan Yesus yang kedua ini.

Tahun 1906, Gereja Pantekosta, mulai berkiprah, yaitu melalui missi yang disampaikan oleh W.J.Seymor. Ajaran ini mengajarkan bahwa setiap orang dapat mengalami kehadiran Rohul Kudus dalam diri mereka dan menerima hadiah-hadiah roh.

Demikian sejarah perkembangan gereja menjadi bermacam-macam setelah 2000 tahun Yesus meninggalkan dunia ini. Kiranya sejarah ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua, terutam kaum muslimin.

Kalau ada kesalahan saya mohon maaf, karena saya hanya manusia biasa tidak luput dari kesalahan, kalau ada kebenaran yang saya sampaikan, itu pasti beasalah dari Allah swt, Pemilik Kebenaran Sejati. Wallahu�lam

Disadur dari :



Matematika Bibel atau Al-Qur'an yang Salah Hitung? (Membedah Blog Kafir - 2)


Dalam blog-blog gratisan milik kaum Walan Tardho, yang makin marak belakangan ini, meski alamat URL-nya bermacam-macam, tapi dari gaya bahasa dan jurus-jurus serangan yang mirip, nampaknya pembuat blog-blog kafir itu adalah satu orang, atau beberapa orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan atau pertemanan.

Salah satu jurus penghinaan terhadap Al-Qur'an yang hampir dimuat di semua blog itu adalah gugatan terhadap perhitungan  dalam hukum waris (fara’id) dalam Al-Qur'an. Dengan penyelewengan terhadap rumusan angka waris dalam Al-Qur'an itu, mereka menyimpulkan bahwa Allah dan Nabi Muhammad itu tidak pandai berhitung sehingga matematika dalam Al-Qur'an tidak benar.

Contoh gugatan terhadap hitungan waris dalam Al-Qur’an yang dimuat di blog xxxxslim.xxxxxress.com adalah sbb:
“Contoh KASUS 4: Kesalahan menghitung muhammad: jika yang meninggal TAK MEMILIKI anak, memiliki 1 suami, 2 saudara PEREMPUAN dan Seorang IBU. (Maka pembagian warisnya adalah) 1/2 (ayat 12) + 2/3 (ayat 176) + 1/6 (ayat 11)= 1 + 1/3. Loh kok kelebihan? he...he...he...
Bagi mereka yang matematikanya jongkok. Contoh kasus 4: Jika yang meninggal memiliki WARISAN Rp. 30.000.000 dan mempunyai AHLI WARIS, adalah: seorang suami, 2 saudara perempuan, dan seorang ibu.
Seorang SUAMI akan mendapatkan 1/2 x Rp. 30.000.000 = Rp. 15.000.000.
SEORANG saudara perempuan akan mendapatkan 2/3 x Rp. 30.000.000 = Rp. 20.000.000.
Seorang Ibu akan mendapatkan 1/6 x Rp. 30.000.000 = Rp. 5.000.000.
Total yang mesti dibayar= rp. 40.000.000, padahal warisan hanya Rp. 30.000.000.”
Persoalannya adalah ayat tersebut diterapkan dengan matematika dangkal yang terbatas pada penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian, seperti pelajaran yang diajarkan di bangku SD. Berbekal matematika awam ini, dengan cerobohnya penulis blog itu menuduh Allah dan Nabi Muhammad salah hitung.
...Berbekal matematika awam ini, dengan cerobohnya penulis blog itu menuduh Allah dan Nabi Muhammad salah hitung...
Memang benar, ada tiga ayat Al-Qur`an yang berbicara tentang perhitungan waris, antara lain surat An-Nisa 11, 12 dan 176. Jadi, ketiga ayat yang dikutip dalam selebaran itu sudah benar. Lantas dimana persoalannya?
Pada contoh kasus yang dikemukakan tersebut, jika ada orang yang meninggal dengan meninggalkan beberapa ahli waris, antara lain: seorang suami, 2 orang saudara perempuan dan seorang ibu. Maka pembagiannya sbb:

Pertama, seorang suami mendapat warisan 1/2 (nishfu), berdasarkan firman Allah: “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak...” (Qs An Nisa’ 12).

Kedua, 2 orang saudara perempuan mendapat warisan 2/3 (ats-tsulutsani), berdasarkan firman Allah: “...tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal...” (Qs An-Nisa 176).

Ketiga, seorang ibu mendapat warisan 1/6 (as-sudusu), berdasarkan firman Allah: “...jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam...” (Qs An-Nisa 11).

Bila semuanya dijumlahkan, maka hasilnya adalah 1/2 + 2/3 + 1/6 = 4/3 = 1 + 1/3. Atas dasar ini, penulis selebaran itu menuduh terjadinya kesalahan dalam perhitungan Allah SWT karena seharusnya jumlah pembagian harta warisan itu harus 1. Tetapi dalam kasus ini menunjukkan terjadi kelebihan harta yang harus dibagi yaitu kelebihan 1/3.

Praktiknya, jika harta warisan itu Rp 30.000.000, maka sang suami mendapatkan Rp 15.000.000, sedangkan 2 saudara perempuan mendapat Rp 20.000.000, kemudian sang ibu mendapat Rp 5.000.000. Jika seluruh bagian warisan sang suami, 2 saudara perempuan dan sang ibu itu dijumlahkan, maka hasilnya adalah Rp 40.000.000. Padahal harta yang diwariskan hanya Rp 30.000.000.

Inilah yang dimaksud selebaran itu sebagai kesalahan perhitungan Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Dengan temuan ini, sang aktivis Kristen merasa hebat dan memanfaatkannya sebagai senjata untuk menanamkan keragu-raguan terhadap akidah umat Islam.

Tetapi, aktivis Kristen itu telah tertipu dengan temuannya, karena apa yang dikemukakan itu bukan hal yang baru. Para ulama dari jaman terdahulu sudah membahasnya secara tuntas dalam Ilmu Faraidh. Di Indonesia, buku yang sangat populer adalah “Al-Fara’idh, Ilmu Pembagian Waris” karya A Hassan, ulama tersohor dari Persatuan Islam. Buku ini sudah terbit berulang kali sejak tahun 1949.

Masalah kelebihan jumlah bagian ahli waris dibandingkan jumlah harta, dalam Ilmu Faraidh disebut Al-‘Aul. Sebaliknya, kelebihan harta dibandingkan jumlah bagian ahli waris disebut Ar-Radd. Untuk menjelaskan penerapan bab Al-‘Aul dalam faraidh, mari kita terapkan pada kasus yang dikemukakan dalam selebaran itu.

Sebelum melangkah kepada pembagian warisan, perlu dicatat baik-baik bahwa hak warisan sang suami adalah 1/2 atau 3/6, sedangkan hak dua saudara perempuan adalah 2/3 atau 4/6, dan hak ibu adalah 1/6. Dari angka ini, dapat ditentukan perbandingan hak waris antara suami (3/6) dengan dua saudara perempuan (4/6) dan ibu (1/6) adalah 3:4:1.

Dengan kata lain, hak suami adalah 3 bagian, hak dua orang saudara perempuan adalah 4 bagian, sedangkan hak ibu adalah 1 bagian. Total seluruh hak waris adalah 8 bagian. Jumlah 1 bagian warisan adalah Rp 3.750.000 (1/8 x 30.000.000 = 3.750.000).

Dari sini dapat ditentukan pembagian harta warisan (Rp 30.000.000) kepada masing-masing hak ahli waris, antara lain:

Pertama, sang suami mendapat 3 bagian (3 x 3.750.000) = Rp 11.250.000,-

Kedua, 2 saudara perempuan mendapat 4 bagian (4 x 3.750.000) = Rp 15.000.000,-

Ketiga, sang ibu 1 bagian (1 x 3.750.000) = Rp 3.750.000,-

Jelaslah, bahwa pembagian harta warisan menurut Al-Qur`an itu bisa dilakukan dengan adil, rata dan tidak ada satu pun yang salah.

Kesalahan Hitungan dalam Bibel

Bila ada yang menuduh pembagian waris dalam Al-Qur`an salah angka, berarti logika dan matematika aktivis Kristen itulah yang perlu dikoreksi karena sudah mengalami gangguan.

Seharusnya aktivis Kristen itu paham contoh kesalahan hitung dalam kitab suci. Perhatikan contoh perhitungan dalam Alkitab (Bibel) berikut:

“Dalam tahun ketiga puluh satu zaman Asa, raja Yehuda, Omri menjadi raja atas Israel dan ia memerintah dua belas tahun lamanya. Di Tirza ia memerintah enam tahun lamanya... Kemudian Omri mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di Samaria. Maka Ahab, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Ahab, anak Omri, menjadi raja atas Israel dalam tahun ketiga puluh delapan zaman Asa, raja Yehuda” (1 Raja-raja 16:23-29).
Dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa Omri menjadi Raja pada tahun ke-31 zaman Asa selama 12 tahun lamanya. Setelah raja Omri meninggal, maka ia digantikan anaknya pada tahun ke-38.
...Secara matematika yang sederhana, ayat tersebut mengalami kesalahan fatal...
Secara matematika yang sederhana, ayat tersebut mengalami kesalahan fatal. Seharusnya Omri meninggal pada tahun ke-43 pada jaman Asa, dan bukan tahun ke-38 pada jaman Asa. Karena 31 ditambah 12 adalah 43, bukan 38.

Atau seharusnya Omri memerintah hanya selama 7 tahun saja, bukan 12 tahun. Karena 38 dikurangi 31 adalah 7, bukan 12. Apakah ini bukan salah hitung yang fatal namanya?

Kesimpulan: Kitab yang mengalami kesalahan hitungan bukan Al-Qur’an, melainkan Alkitab (Bibel). [A. Ahmad Hizbullah/voa-islam.com]



Polemik ''Allah'': Siapa Nama Tuhan Umat Kristen Indonesia dan Malaysia?


Umat Kristen Indonesia dan Malaysia sibuk berpolemik mencari identitas teologi, siapa sejatinya nama Tuhan mereka? Inilah perdebatan teologi yang tajam tapi unik di kalangan kristiani.

Di Indonesia, beberapa denominasi gereja yang ingin membuang nama “Allah” dari kitab suci dan gereja. Kelompok yang paling getol menyuarakan ide ini adalah Jemaat Beth Yeshua Hamasiah Jakarta. Dalam buku saku Siapakah Yang Bernama Allah Itu? Mereka menyerukan kepada umat Kristen untuk membuang nama Allah dari Alkitab (Bibel), bahasa ibadah di gereja, bahasa komunikasi di media maupun pergaulan sehari-hari. Menurutnya, Allah adalah nama dewa bulan dan harus diganti dengan Yahweh dan Elohim.

Sebagai konsekuensinya, sempalan Kristen ini menerbitkan Alkitab baru yang diberi nama ”Alkitab 2000” yang disusun oleh Eliezer ben Abraham alias Suradi ben Abraham. Dalam Alkitab anti Arab ini, dibuangnya semua istilah Arab dan sebagai gantinya, diambil istilah-istilah Israel untuk Perjanjian Lama dan istilah-istilah Yunani untuk Perjanjian Baru.
...Di Indonesia, beberapa denominasi gereja yang ingin membuang nama “Allah” dari kitab suci dan gereja. Menurutnya, Allah adalah nama dewa bulan dan harus diganti dengan Yahweh dan Elohim...
Beberapa pendeta pendukung anti-Allah ini antara lain: Pendeta Jahja Iskandar,  Ir Posma Situmorang (pemimpin Wisma Gembala Jakarta), Drs Amos alias Poernama Winangun, dll. Untuk menyebarkan ide anti-Allah, Pendeta Jahja Iskandar menulis buku ”Mengapa Nama Yahweh Kurang Populer” (2003), Posma Situmorang menulis bulletin ”Gambar Tuhan: Andakah itu?”, sedangkan Pornama Winangun menulis buku ”Yesus bukan Allah tapi Elohim” (1999).

Sementara di Malaysia, umat Kristen memeras otak dan keringat mencari pengakuan dan pengukuhan untuk diperbolehkan memakai nama ”Allah” sebagai sebutan bagi Tuhan mereka, yang akan dipergunakan dalam kitab suci, bahasa ibadah di gereja maupun bahasa komunikasi di media dan dalam pergaulan sehari-hari.

Bermula pada awal tahun 1980-an, umat Islam Malaysia melakukan kampanye pelarangan bagi umat Kristen untuk memakai nama ”Allah” untuk menyebut tuhan mereka. Mereka beralasan bahwa ”Allah” adalah nama diri yang tidak bisa diikuti dengan kata milik ku, mu, nya, dll. Sedangkan umat Kristen biasa merangkai kata milik untuk ”Allah” sehingga mereka terbiasa mengucapkan kata Allahku, Allahmu, Allahnya, dsb. Alasan lainnya, umat Kristen meyakini doktrin bahwa Yesus sama dengan Allah. Bagi umat Islam Malaysia, sebutan ini adalah pelecehan kepada Allah, Tuhan semesta alam, sehingga sehingga pemakaian kata Allah oleh pihak Kristen dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam.

Kampanye pelarangan ini berhasil gemilang sehingga pemerintah federal dan beberapa pemerintah negara bagian Malaysia sejak tahun 1982 resmi melarang umat Kristen memakai nama ”Allah” untuk menyebut tuhan mereka, baik lisan maupun tulisan.
...di Malaysia, umat Kristen memeras otak dan keringat mencari pengakuan dan pengukuhan untuk diperbolehkan memakai nama ”Allah” sebagai sebutan bagi Tuhan mereka...
Akibat dari kebijaksanaan ini, pertengahan April 2009, lagu rohani Ages Monica, ”Allah Peduli,” dilarang beredar di Malaysia oleh Majelis Agama Islam Selangor (MAIS) Malaysia. Berikutnya 29 Oktober 2009, pemerintah Malaysia menyita 15.000 Bibel yang diimpor dari Indonesia, karena dalam kitab tersebut tertulis kata “Allah” sebagai terjemahan dari Tuhan kristiani.

Setelah melalui serangkaian perjuangan panjang, akhirnya umat Kristen diperbolehkan memakai nama ”Allah” untuk menyebut tuhan mereka, berdasarkan keputusan Pengadilan Tinggi hari Kamis, 31 Desember 2009. Kementerian Dalam Negeri Malaysia menyatakan banding atas keputusan tersebut.

Sepekan kemudian, tepatnya tanggal 6 Januari 2010, Pengadilan Tinggi Malaysia membatalkan keputusan tersebut. Keputusan tanggal 31 Desember 2009 dinyatakan tidak akan berlaku hingga Pengadilan Banding negara itu mengambil keputusan mengenai petisi Departemen Dalam Negeri yang mempertanyakan keputusan itu.

Benarkah Allah itu Dewa Bulan Bangsa Arab Pra Islam?

Bagi umat Kristen yang alergi terhadap kata Allah, kata ini tampak asing bagi bagi mereka, tetapi tidak bagi semua Nabi dari Adam sampai Muhammad. Dalam bahasa Arab kita menemukan di dalam kitab suci Al-Qur’an kata “Allah.” Kata ini sama dengan kata dalam bahasa Ibrani “Eloah” (bentuk singular/tunggal), tetapi Yahudi membuatnya dalam bentuk jamak/plural “Elohim.” Kata “Allah’ lebih dekat dengan kata bahasa Aram ‘Alaha’ yang digunakan oleh Yesus sendiri (Nabi Isa alaihissalam). Baca Encyclopaedia Britannica 1980, yang ditulis oleh ilmuwan non-Muslim, dengan judul artikel “Allah and Elohim.”

"Allah is the one and only God in the religion of Islam. Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, "the God." The name's origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonym for Yahweh. All (h is the standard Arabic word for "God" and is used by Arab Christians as well as by Muslims." (CD Encyclopaedia Britannica 2003 Ultimate Reference Suite).

"Allah itu satu dan satu-satunya Tuhan adalah agama Islam. Secara etimologi, nama Allah itu mungkin singkatan dari kata bahasa Arab Al-Ilah yang berarti "Tuhan." Asal nama dapat ditelusuri dari Tulisan Semitic (bahasa Semit di masa Ibrahim, pen.) yang paling awal di mana kata untuk menyebut Tuhan adalah Il Atau El, yang belakangan menjadi Sinonim Perjanjian Lama untuk Yahweh. Allah adalah kata bahasa Arab yang baku untuk "Tuhan" dan digunakan oleh Kristen Arab (sebelum Islam, pen.) seperti halnya oleh Orang Islam."

"Singular Eloah (Hebrew: God), the God of Israel in the Old Testament. A plural of majesty, the term Elohim-though sometimes used for other deities, such as the Moabite god Chemosh, the Sidonian goddess Astarte, and also for other majestic beings such as angels, kings, judges (the Old Testament shoferim), and the Messiah - is usually employed in the Old Testament for the one and only God of Israel, whose personal name was revealed to Moses as YHWH, or Yahweh (q.v.). When referring to Yahweh, elohim very often is accompanied by the article ha-, to mean, in combination, "the God," and sometimes with a further identification Elohim Rayyim, meaning "the living God." (ibid.).

[Eloah bentuk tunggal (dari bahasa Ibrani: Tuhan), Tuhan Israel di yang disebutkan dalam kitab Perjanjian Lama. Bentuk  jamaknya untuk menunjuk keagungan-Nya adalah Elohim yang terkadang dipakai untuk menyebut dewa-dewa, seperti dewa Chemos yang disembah orang Moab, Dewi Astarte sesembahan orang Sidon dan juga untuk memanggil yang memiliki keagungan seperti malaikat, raja dan hakim-hakim agama Yahudi, juga Mesiah –Kata Elohim biasanya dipakai dalam Perjanjian lama untuk menyebut satu-satunya Tuhan bangsa Israel yang telah menurunkan wahyu kepada nabi Musa, YHWH atau Yahweh. Ketika kata tersebut dimaksudkan untuk menyebut Yahweh, kata 'Elohim' sering ditambah dengan artikel "ha" ("the" dalam bahasa Inggris) yang artinya "the God" (Tuhan), dan terkadang lebih jauh ditambah identifikasi (kata sifat) "Elohim Rayyim" yang artinya "Tuhan yang hidup].

Kenneth Cragg, uskup yang pernah bertugas di Libanon dan AS, juga pernah menjadi asisten uskup di Yerusalem tahun 1970-1973 menjelaskan:

"The were vital Christian, and Jewish, factors in the very availability of Arabic vocabulary for the articulation of Islam. Scores of Aramaic loanwords found their way into Arabic, many of them into the preaching of Muhammad. The word of Allah itself, presumably a conflation of al-Ilah, was already current , denoting the supreme, if not exclusive, "god." It was the sole worship of Allah, not His existence per se, that Islam proclaimed. Muhammad's own father, dying before his son's birth, had the name "servant of Allah." Abd (servant) reached Islam from Semitic sources: what Islam did was to restrict us to "servant" of God alone. Similarly the word Rabb (Lord) became exclusively a descriptive of God, no longer to be used of human superiors, who were now to sayyids only." (Kenneth Cragg, The Arab Christian, a History in the Middle East, Mowbray, London, 1991, hal. 45.)

[Beberapa faktor penting berasal dari Kristen dan Yahudi masuk ke dalam kosakata bahasa Arab. Kosa kata dari bahasa Aram menemukan jalan untuk masuk ke bahasa Arab, banyak diantaranya ke dalam pengajaran Muhammad. Kata "Allah" sendiri, mungkin berasal dari kata al-Ilah, yang sekarang diartikan Tuhan yang Maha Tinggi. Jika tidak dalam pengertian eksklusif, kata "Ilah" bisa diartikan dengan "dewa." Itu satu-satunya Allah yang disembah, yang diproklamirkan Islam. Ayah Muhammad sendiri yang meninggal sebelum kelahiran putranya, mempunyai nama "Abdullah" (Hamba Allah) ." Kata abdun (hamba) diambil dari bahasa Semit: Islam membatasi makna kata ini (abdun) hanya untuk  "hamba" Allah. Dengan cara yang sama kata "Rabb"  menjadi eksklusif untuk Tuhan, dan tidak lagi digunakan untuk "manusia" yang kini hanya menggunakan kata "sayyid" (tuan) saja].
...Hampir semua pakar non-muslim beranggapan bahwa kata "Allah" berasal dari "al-ilah", tetapi pihak Islam menolaknya...
Hampir semua pakar non-muslim beranggapan bahwa kata "Allah" berasal dari "al-ilah", tetapi pihak Islam menolaknya. Sebab kata tunggal "ilah" (Tuhan) memiliki bentuk jamaknya, yakni "Alihah" (tuhan-tuhan atau dewa-dewa). Sedangkan kata "Allah" mustahil memiliki bentuk jamaknya. Dengan demikian kata "Allah" bukan berasal dari kata "al-ilah." Karena kata “Allah” adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain), karena kata ini tidak bisa dirubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama’ (plural), dan tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf.

Dalam Al-Qur’an, kata “Allah” disebut sebanyak 2679 kali, semuanya dalam bentuk mufrad (singular, tunggal), karena lafzhul jalalah (lafal yang agung) ini adalah Esa dan Mutlak, sesuai ayat Al-Qur’an berikut: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (Qs. Al-Ikhlash 1-4).
...Kita tahu bahwa nama Tuhan yang berhak disembah itu adalah Allah, karena Allah sendiri yang memperkenalkan bahwa Dia bernama Allah...
Kita tahu bahwa nama Tuhan yang berhak disembah itu adalah Allah, karena Allah sendiri yang memperkenalkan bahwa Dia bernama Allah: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs. Thaha 14).

Tetapi kenapa dalam bahasa Ibrani kata "Eloah" memiliki bentuk jamak 'Elohim". Bahasa manakah yang telah mengalami penyimpangan dan kerusakan (distorsi), Ibrani ataukah Arab? Jawabannya ada pada sub judul berikut ini:

Menguji Keaslian Bahasa

Telinga umat Kristen sendiri sangat akrab dengan istilah “Bethel” (Beth-El) yang artinya “Rumah Tuhan”. Bahasa Arab-nya adalah “Baitullah” (Bait Allah). Bahasa Ibrani mengucap “e” seperti Eloah dan Beth, sedangkan bahasa Arab melafazkan “a” seperti Allah dan Bait. Kristen Indonesia menyebut nabi Isa dengan panggilan “Yesus”, sedangkan Kristen Eropa, Amerika dan Australia memanggil “Jesus” bukan “Yesus”. Lalu apakah Jesus dengan Yesus itu berbeda orangnya?

Bagaimana dengan kata “Yehovah”? Ia lebih dari absurd (mustahil)! Ini adalah nama yang salah. Bagaimana Aliran Saksi Yehovah dapat membimbing manusia ke jalan kebenaran jika mereka sendiri membuat kesalahan besar terhadap nama mereka sendiri. Bahasa Ibrani seperti halnya bahasa Arab tidak memiliki huruf hidup (vokal), melainkan hanya konsonan. Kata aslinya adalah YHWH, sebuah rangkaian huruf mati dan harus dibaca Yahweh dalam bahasa Ibrani dan diterjemahkan dalam bahasa Arab “Ya Hua” yang artinya “Oh Dia” sebagaimana Yahudi pada waktu itu meyakininya sebagai kata yang sangat suci untuk menyebut Tuhan yang Maha Ada.

Di dalam Alkitab terutama pada halaman kitab-kitab Perjanjian Lama, kita tidak menemukan lagi kata ‘Eloah’ atau "Eloha." Karena ia telah diganti dengan kata ‘Elohim’ yang jumlahnya mencapai sekitar 2.570 kali. Sedangkan Bangsa Israel yang tinggal di masa pembuangan di Babilonia mengubah nama ‘Eloah’ menjadi YHWH (Yahweh). Kata ini sebutkan dalam Alkitab sekitar 6.823 kali.
...Di dalam Alkitab terutama pada halaman kitab-kitab Perjanjian Lama, kita tidak menemukan lagi kata ‘Eloah’ atau "Eloha." Karena ia telah diganti dengan kata ‘Elohim’ yang jumlahnya mencapai sekitar 2.570 kali...
Elohim adalah nama dewa-dewa kafir

Para pendeta dan penginjil yang ingin mengganti kata ”Allah” dengan kata ”Elohim” dengan alasan Allah adalah nama dewa, akan sangat terkejut bila membaca ensiklopedi Kristiani. Sebab dinyatakan dalam berbagai literatur bahwa Elohim adalah nama dewa atau dewi bangsa kafir.

Adolf Heuken, pakar bibliologi Katolik dari Serikat Jesuit menyatakan bahwa Elohim adalah nama dewa atau dewi orang kafir.

“Elohim (Ibr) sering digunakan untuk menyebut Allah, tetapi juga digunakan dalam berbagai pengertian, antara lain untuk menunjuk kepada dewa atau dewi orang kafir (Kej. 35:2; Kel. 18:11)” (Ensiklopedi Gereja I, Adolf Heuken Sj. Hal. 289).

Pernyataan Heuken ini berdasarkan ayat Alkitab sendiri. Dalam kitab Kejadian 35:2, kata Elohim berarti dewa-dewa asing:

“Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: "Jauhkanlah dewa-dewa asing (Elohim) yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu” (Kej. 35:2).

“Sekarang kuketahui, bahwa besarlah Tuhan dari pada segala dewata (Elohim), karena dalam membesarkan dirinya dengan sombongnya mereka itu telah membinasakan dirinya sendiri” (Keluaran 18:11, terjemahan Alkitab 1960).
...Elohim (Ibr) sering digunakan untuk menyebut Allah, tetapi juga digunakan dalam berbagai pengertian, antara lain untuk menunjuk kepada dewa atau dewi orang kafir...
Senada dengan itu, Dr C.I. Scofield, seorang pastor, doktor teologi dan pakar bibliologi, ketika menafsirkan kitab Kejadian (Genesis) 1:1, menjelaskan bahwa Elohim adalah salah satu nama dari Dewa-dewa terkemuka.

“Elohim (English form “God”), the first of the names of Deity, is a plural nound in form but is singular in meaning when it refers to the true God. Emphasis in Genesis 1:26 is on the plurality in Deity; in verses 27, on the unity of the divine Substance (Chapter Genesis 3:22), the plural form of the word suggests the Trinity” (Scofield, The New Scofield Reference Bible, hlm. 1).

(Elohim [Inggris: "God"], nama pertama dari nama Dewa, adalah bentuk kata yang plural, tapi tunggal dari bentuk maknanya pada saat mengacu pada Tuhan yang sebenarnya. Tekanan pada Kejadian 1:26 adalah satu dari bentuk jamak Dewa. Pada ayat 27, menekankan pada kesatuan substansi ketuhanan [Kejadian 3:22] bentuk jamak dari kata menyatakan dan Trinitas).

Pada halaman berikutnya Scofield menegaskan: “Elohim (sometimes El or Elah), English form “God,” the first of the three primary names of Deity, is a uni-plural noun formed from El = strength, or the strong one, and Alah, to swear, to bind oneself by an oath, so implying faithfulness. This uni-plurality implied in the name is directly asserted in Genesis 1:26 (plurality), 26 (unity); see also Genesis 3:22. Thus the Trinity is latent Elohim” (hlm. 3).

(Elohim [terkadang dibaca El atau Elah], dalam bahasa Inggris: ‘God’, yaitu nama yang pertama dari 3 nama Dewa yang utama, merupakan kata benda yang bersifat jamak, bentuk kata benda dari El yang berarti kekuatan, atau yang kuat, dan Alah berarti bersumpah, mengikat diri seseorang dengan sumpah, setia pada sumpah. Bentuk jamak ini termasuk dalam nama yang secara langsung ditegaskan dalam Kejadian 1:26 (jamak), 1:27 (kesatuan); lihat juga Kejadian 3:22. Di sana Trinitas tersembunyi di dalam Elohim).
...Umat Islam seluruh dunia bisa khusyu beribadah karena secara pasti, sah dan universal menyebut Allah sebagai Tuhan semesta alam. Sementara umat kristiani masih simpang-siur mencari nama Tuhan mereka...
Umat Islam seluruh dunia bisa khusyu beribadah karena secara pasti, sah dan universal menyebut Allah sebagai Tuhan semesta alam. Sementara umat kristiani masih simpang-siur mencari nama Tuhan yang benar untuk dipakai dalam beribadah dan berdoa. [Masyhud SM, A Ahmad Hizbullah/SI]



Membedah Blog Kafir (1): Islam Adalah Geng Pemuja Setan dan Pembunuh Manusia?


GENG Walan Tardho semakin ganas dalam melecehkan Islam. Puluhan website dan blog gratisan jadi panggung penghujatan Islam. Tantangan besar bari para blogger dan hacker Muslim. Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) harus cepat bertindak.

Orang tak beragama saja jijik membaca kata-kata kotor para penghujat Islam itu. Salah satu blog yang isinya penuh dengan kata-kata tengik adalah blog beridentitas “The Gengster of Mohamed” dengan alamat: http:www.geng####.###.com. Untuk menghindari dampak negatif yang tidak diinginkan, alamat situs ini sengaja kami samarkan.

Dalam header blog tertulis kalimat yang sangat menantang, terang-terangan menyebut Islam sebagai sebuah geng pemuja setan: “The Gengster of Mohamed, Satanic Cult: Geng Pemuja Setan yang Berpusat di Ka’bah."

Sayangnya, pemilik blog gratisan itu sama sekali tidak mencantumkan identitasnya. Ia hanya mencantumkan sebuah email di yahoo dengan account Alisina yang tak jelas batang hidungnya.
..Dalam header blog mereka terang-terangan menyebut Islam sebagai sebuah geng pemuja setan: “The Gengster of Mohamed, Satanic Cult: Geng Pemuja Setan yang Berpusat di Ka’bah...
Tidak dicantumkannya identitas ini menunjukkan bahwa pemilik blog ini tidak yakin dengan kebenaran materi blog yang ditulisnya. Atau pemilik blog yakin bahwa konten blog tersebut tidak bisa dipertanggungjawabkan secara agama, moral maupun hukum.

Karena pemilik blog tidak mencantumkan nama anggota maupun institusinya, berarti dia mempersilahkan pengunjung blog untuk memberikan nama apa saja. Maka dalam artikel ini, kita sebut saja pemilik blog penghujat Islam itu sebagai ” Geng Walan Tardho.”

Seharusnya, jika Geng Walan Tardho itu jeli, gaya penyiaran agama dengan cara-cara kotor ini sebetulnya sama sekali tidak menguntungkan dirinya, hanya jadi bumerang terhadap agamanya. Karena dengan cara-cara yang kotor, tak bermoral, dan pengecut, maka otomatis orang  akan menilai bahwa agama yang sedang dianut dan disebarkan oleh pemilik blog penghujatan tersebut adalah agama kotor dan tak bermoral yang mengajarkan kebencian.

TANGGUNGJAWAB MENKOMINFO TIFATUL SEMBIRING

Situs blog anti-Islam di dunia maya ini bukan yang pertama kalinya, tapi sudah berulang-ulang sejak lama. Hal itu tentunya memprovokasi stabilitas keamanan Indonesia, yang mayoritas warganya memeluk agama Islam. Untuk mencegah instabilitas keamanan negara, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, harus bertanggung jawab.

"Tanggung jawab ada pada Menteri Kominfo. Pak Tifatul Sembiring harus bertanggung jawab," kata Sekjen Forum Umat Islam (FUI) Muhammad Al-Khaththath.

Lebih lanjut, Muhammad mengatakan, pembuat situs provokatif itu harus segera dilacak identitasnya, dan diberi hukuman yang sesuai.

"Mestinya aparat keamanan segera melacak itu, pembuat situs itu mudah lah dilacak. Saya yakin penegak hukum mampu mengatasi itu," ujarnya.

Senada dengan itu, Wakil Sekretaris MUI Pusat, Asrorun Niam menyatakan, pemerintah harus memblokir situs blog penghujat Islam, agar tidak dapat diakses. Tidak hanya itu, pemerintah harus menindak siapa pelakunya.
...Tanggung jawab ada pada Menteri Kominfo. Pak Tifatul Sembiring harus bertanggung jawab. Pemerintah jangan diam saja, harus proaktif mengawasi, mencegah, dan menindak...
"Pemerintah jangan diam saja, harus proaktif mengawasi, mencegah, dan menindak hal seperti itu," katanya.

Niam mengaku telah mengetahui dan membaca isi yang ada di blog tersebut. Di samping permasalahan agama, di dalamnya juga ada mengemukakan persoalan sosial.

”Hal seperti inilah yang bisa menimbulkan gesekan di masyarakat,” sambungnya.

Karena itu, tegas Niam, negara harus berperan menjaga situasi, agar tidak terjadi saling fitnah. Selain itu, tidak boleh ada seseorang yang mengatasnamakan kebebasan, malah menyebabkan disharmoni.

"Tindakan blokir merupakan tindakan preventif yakni mencegah. Tetapi di luar itu, harus ditelusuri siapa yang membuatnya. Harus efek jera, agar tidak terulang kembali," pungkasnya.

ISLAM DITUDING SEBAGAI GENG PEMUJA SETAN

Meski tak dapat dipastikan identitas penulis blog penghujatan, tapi dengan dari persamaan style dengan belasan blog serupa lainnya, dengan mudah kita bisa menebak, bahwa ideologi pemilik blog.  Mereka adalah menganut kitab suci yang mengajarkan slogan ”Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah aku harapkan, api itu menyala!” dan slogan “aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi, melainkan pertentangan.” Salah satu api pertentangan yang dilemparkannya adalah tulisan blog sbb:
”Banyak orang mengira Islam adalah sebuah agama.  Tetapi yang benar Islam bukan agama.  Islam adalah sebuah geng, yang pimpinannya bernama Nabi Muhammad SAW. Para pengikutnya... menganggap Nabi Muhammad SAW adalah makhluk setengah dewa, yang begitu sakral, sangat sempurna dan wajahnya paling ganteng sedunia.

Geng ini dapat terus eksis karena menyamar sebagai agama.  Sang pemimpin geng mengaku diutus oleh ”tuhan” bernama Allah untuk menaklukkan dunia di bawah pemerintahan Islam.  Kita harusnya mengerti, bahwa tidak mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana mengutus seorang bejat moral dan penjahat gila, yang isi otaknya cuma seks, harta dan kekuasaan. 

Di samping itu, Tuhan adalah Penguasa Alam Semesta, Tuhan tidak perlu berambisi  menaklukkan dunia, sebab Alam Semesta ini memang milik-Nya.  Lalu siapakah gerangan sosok yang ingin menguasai dunia ini, yang dengan gaya preman dan nafsu haus darahnya menggebu-gebu ingin mengontrol dunia di bawah 1 kalifah?  Tentu saja ini bukan cita-cita Tuhan, melainkan cita-cita Iblis.  Tuhan sudah menguasai dunia ini, jadi untuk apa Dia ingin menguasainya lagi?  Iblis/Setan-lah yang ingin merebut dunia ini.  Ya, Islam adalah geng pemuja Setan.  Itu sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang.

Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya.

Di sisi lain, Islam ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam bertambah.  Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.”
...Seluruh tulisan itu tak satu ”iota” pun yang bisa dibenarkan...
Semua yang diuraikan Geng walan tardho itu bertolak belakang dengan fakta baik fakta hukum (dalil) maupun realita. Seluruh tulisan itu tak satu ”iota” pun yang bisa dibenarkan,  berikut ini bantahannya:

Islam bukan agama tapi sebuah geng?

Tuduhan Alisina bahwa Islam bukan agama tapi geng, sangat tidak berdasar sama sekali. Dalam buku manualnya (Al-Qur’an), jelas disebutkan bahwa Islam adalah agama (din):

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam” (Qs. Ali Imran 19).

“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (Qs. Ali Imran 85).

Eksistensi Islam sebagai sebuah agama ini juga diakui oleh para teolog non Kristen, misalnya Pendeta Dr R Soedarmo, pakar dogmatika Kristiani alumnus universitas teologi Belanda. Soedarmo adalah teolog terkemuka di Indonesia. Wawasan teologinya dibesarkan dan dipupuk di mancanegara: kuliah S1 di universitas Vrije Universiteit Belanda tahun 1938-1943 dan S2 di universitas yang sama tahun 1955-1957. Setelah tamat dari kuliah selama 7 tahun di Belanda, Soedarmo pulang ke Indonesia menjadi pendeta di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salatiga, dosen di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (STTJ), dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, anggota Badan Pengurus Dewan Gereja Indonesia (DGI, sekarang diganti Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia–PGI), ketua seksi Perjanjian Lama LAI, dan lain-lain.
...Eksistensi Islam sebagai sebuah agama ini juga diakui oleh para teolog non Kristen, misalnya Pendeta Dr R Soedarmo, pakar dogmatika Kristiani alumnus universitas teologi Belanda...
Apa kata pendeta terpelajar lulusan Belanda ini tentang Islam? Apakah ia mengatakan bahwa Islam bukan agama tapi geng? Bacalah buku “Ikhtisar Dogmatika” yang ditulisnya. Pendeta Soedarmo justru menyatakan bahwa Islam adalah sebuah agama. Bahkan bukan sebagai agama biasa, melainkan agama yang bercorak rasionalitas akal-budi. Pendeta Soedarmo menulis:

Agama Islam bercorak rasionalitis, artinya rasio, akal budi, memberi tekanan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, trinitas ditolak, sebab tidak dapat dimengerti bahwa 3 adalah 1 dan bahwa 1 adalah 3. Kita tentu insaf bahwa Trinitas memang tidak dapat dimengerti” (halaman 114).

Jika kitab suci dan para ahli mengakui Islam sebagai agama (din), maka tuduhan Geng Walan Tardho bahwa Islam bukan agama melainkan sebuah geng, sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Nabi Muhammad manusia setengah dewa?

Tuduhan Geng Walan Tardho bahwa umat Islam memuja Nabi Muhammad sebagai makhluk setengah dewa juga kebohongan besar. Ajaran Islam baik yang tertuang dalam Al-Qur’an maupun hadits, tak satu ayat pun yang mengajarkan bahwa Muhammad adalah manusia setengah tuhan atau setengah dewa.

Umat Islam hanya meyakini Nabi Muhammad sebagai hamba dan rasul Allah yang terakhir (Qs Al-Ahzab 40) yang risalahnya berlaku untuk seluruh umat manusia (Qs Al-Anbiya 107). Sebagai nabi yang terakhir, beliau adalah manusia pilihan yang patut dijadikan suri tauladan atau ”uswatun hasanah” (Qs. Al-Ahzab 21). Sebagai nabi terakhir, keberadaan Muhammad SAW juga tidak dipisahkan dari para nabi sebelumnya, karena semua nabi memiliki keterkaitan misi (hadits muttafaq ’alaih).

Umat Islam tak ada satu pun yang memuja nabi Muhammad sebagai manusia setengah dewa, karena umat Islam beriman kepada semua nabi tanpa membeda-bedakan antara nabi yang satu dengan nabi yang lainnya.

”Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya” (Qs Al-Baqarah 285).
...Keyakinan adanya nabi yang menjadi manusia setengah tuhan  atau setengah dewa (inkarnasi) bukan milik Islam, tapi milik agama lain yang terkontaminasi kepercayaan pagan...
Nabi Muhammad sendiri seumur hidupnya tidak pernah mengajarkan kepada umatnya bahwa beliau adalah manusia setengah dewa. Mengenai identitas, beliau hanya mengajarkan 4 nama. Dari empat nama itu tidak ada nama manusia setengah dewa. Perhatikan hadits berikut:
Dalam hadits riwayat Jubair bin Muth'im RA, Nabi SAW bersabda: "Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (penghapus), yang karena aku dihapuskan kekufuran. Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku. Aku adalah Aqib dan Aqib adalah nabi yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya" (HR Muslim).
Keyakinan adanya nabi yang menjadi manusia setengah tuhan  atau setengah dewa (inkarnasi) bukan milik Islam, tapi milik agama lain yang terkontaminasi kepercayaan pagan.

Islam geng pemuja setan?

Tudingan  Islam sebagai geng pemuja setan pun bertolak belakang dari ajaran Islam. Justru Islam adalah agama yang sangat keras dalam memusuhi syaitan. Salah satu ayat terkenal adalah perintah Allah untuk menjadikan setan sebagai musuh abadi.

”Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (Qs Al-An’am 142).

Karenanya, umat Islam disyariatkan untuk berta’awudz (minta perlindungan kepada Allah dari godaan setan).

Salah satu tabiat setan adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara sesama umat manusia, dan menghalangi manusia dari mengingat Tuhan (Qs Al-Ma’idah 90-91).

Karena karakter blog milik Geng Walan Tardho adalah menimbulkan permusuhan dan kebencian, maka menurut ayat di atas, berarti merekalah pengikut setan sejati. Mereka adalah musuh yang nyata semua umat beragama.

Target Islam adalah membunuh sebanyak-banyak manusia?

Tulisan Geng Walan Tardho yang paling keji adalah tuduhan terhadap Islam sebagai geng pemuja setan karena ingin membunuh orang sebanyak-banyaknya, dengan tuduhan sbb:
”Ya, Islam adalah geng pemuja Setan.  Itu sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang. Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, Islam ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam bertambah.  Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.”
Tudungan ini tak akan pernah terbukti kebenarannya sampai kapan pun, karena tidak sesuai dengan kenyataan dan ajarannya. Al-Qur’an adalah kitab suci yang sangat menjujung tinggi hak hidup manusia. Karena Allah SWT mengajarkan dalam kitab-Nya yang mulia, bahwa “menghilangkan nyawa manusia satu orang saja tanpa alasan yang haq, maka ia seolah-olah telah membinasakan seluruh manusia. Sebaliknya, menjaga kehidupan satu saja jiwa manusia saja seolah-olah ia telah menjaga kehidupan seluruh manusia.

”...Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi” (Qs. Al-Ma’idah 32).

Untuk mencegah tindak kriminalitas pembunuhan, Islam menetapkan hukuman qishas di dunia, terhadap orang yang melakukan pembunuhan tanpa alasan yang dibenarkan: ”... Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh...” (Qs Al-Isra’ 33).

Larangan dan kecaman Islam terhadap pembunuhan, semakin keras dengan ancaman azab Allah Ta’ala bagi pembunuh, yaitu azab Jahannam yang kekal abadi: ”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (Qs An-Nisa’ 93).
...Islam sama sekali tidak mengajarkan pembunuhan manusia sebanyak-banyaknya sebagai target keberhasilannya. Sebaliknya, sebuah nyawa manusia yang masih bayi pun sangat dihormati hak hidupnya...
Sama sekali tidak ada ajaran pembunuhan massal dalam Islam. Bahkan nyawa anak-anak termasuk anak-anak yang masih bayi pun sangat dihormati Islam. Islam melarang membunuh anak-anak dengan alasan apapun, termasuk dengan alasan materi:

”Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar” (Qs Al-Isra’ 31).

Dengan ayat yang melarang pembunuhan terhadap anak-anak dan kecaman sebagai dosa besar, secara otomatis tertolaklah tuduhan Geng Walan Tardho bahwa tujuan Islam adalah membunuh manusia sebanyak-banyaknya. Islam sama sekali tidak mengajarkan pembunuhan manusia sebanyak-banyaknya sebagai target keberhasilannya. Sebaliknya, sebuah nyawa manusia yang masih bayi pun sangat dihormati hak hidupnya.

Geng Setan itu Ajaran Al-Qur’an ataukah Bibel?

Geng Walan Tardho dalam blognya menjadikan pembunuhan manusia sebagai tolok ukur bahwa itu adalah pemuja setan. Lantas mereka menuduh Islam sebagai geng pemuja setan karena target Islam adalah pembunuhan manusia sebanyak-banyaknya. Perhatikan lagi tudingan Geng Walan Tardho berikut:
Ya, Islam adalah geng pemuja Setan.  Itu sangat nampak terlihat dari sepak terjang mereka, mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga zaman sekarang. Perbedaan nyata Tuhan dengan Setan: Tuhan ingin menyelamatkan jiwa sebanyak-banyaknya, sedangkan Setan ingin membunuh sebanyak-banyaknya. Di sisi lain, Islam ingin mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya, agar kekuatan Islam bertambah.  Dan orang yang menolak bergabung dalam geng Islam atau orang yang dengan terang-terangan memusuhi geng Islam, akan dibunuh.”
Tudingan terhadap Islam sebagai agama yang mengajarkan pembunuhan sebanyak-banyak manusia telah terbantah pada pembahasan sebelumnya.

Sebaliknya, mari kita terapkan tolok ukur Geng Walan Tardho itu terhadap rasul umat Kristiani yaitu Paulus dalam Bibel. Perhatikan apa yang dilakukan oleh Paulus dalam Alkitab (Bibel):

“Sementara itu berkobar-kobar hati Paulus untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (Kisah Para Rasul 9: 1-2).

Dengan tolok ukur yang dibuatnya, apakah Geng Walan Tardho itu menuding Paulus, rasulnya umat Kristiani itu sebagai nabi pemuja setan yang sejati?

Bagaimana pula  analisa Geng Walan Tardho terhadap perbuatan Tuhan dalam Bibel, bahwa Tuhan balas dendam dengan memerintahkan untuk membunuh dan menumpas segenap rakyat tanpa rasa belas kasihan, dengan mata pedang, baik laki-laki, perempuan, anak menyusui, maupun binatang ternak (1 Samuel 15:1-11)? Apakah mereka juga menuduh Tuhan dalam Bibel adalah tuhan pemuja setan?
...Dengan ayat-ayat Bibel tersebut, mengapa Geng Walan Tardho tidak menulis dalam blognya bahwa berdasarkan ayat ini, maka Tuhan dalam Bibel itu pemuja setan karena melakukan pembunuhan masal...
(2) Beginilah firman Tuhan semesta alam: Aku akan membalas apa yang dilakukan orang Amalek kepada orang Israel, karena orang Amalek menghalang-halangi mereka, ketika orang Israel pergi dari Mesir. (3) Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan kepadanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun perempuan, kanak-kanak maupun anak-anak yang menyusu, lembu maupun domba, unta maupun keledai”.... (7) Lalu Saul memukul kalah orang Amalek mulai dari Hawila sampai ke Syur, yang di sebelah timur Mesir. (8) Agag, raja orang Amalek, ditangkapnya hidup-hidup, tetapi segenap rakyatnya ditumpasnya dengan mata pedang. (9) Tetapi Saul dan rakyat itu menyelamatkan Agag dan kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dan tambun, pula anak domba dan segala yang berharga: tidak mau mereka menumpas semuanya itu. Tetapi segala hewan yang tidak berharga dan yang buruk, itulah yang ditumpas mereka. (1 Samuel 15:2-9).

Dengan ayat-ayat Bibel tersebut, mengapa Geng Walan Tardho tidak menulis dalam blognya bahwa berdasarkan ayat ini, maka Tuhan dalam Bibel itu pemuja setan karena melakukan pembunuhan masal?

Penutup

Dalam pandangan Islam, tuduhan Geng Walan Tardho bahwa Islam sebuah geng itu tidak hanya menghina umat Nabi Muhammad saja. Tapi juga melecehkan semua nabi Allah. Karena semua nabi adalah  Muslim. Nabi Ibrahim adalah muslim (Qs. Ali Imran 67), Nabi Yakub juga muslim (Qs. Al-Baqarah 132-133), Nabi Luth muslim (Qs. Adz-Dzariyat 36), Nabi Yusuf juga muslim (Qs. Yusuf 101), Nabi Sulaiman muslim (Qs. an-Naml 31). Bahkan Nabi Isa dan para peingikutnya pun Muslim (Qs. Ali Imran 52).

Terhadap Geng Walan Tardho yang membuat blog penghujatan terhadap Islam tersebut, pemerintah khususnya Menkominfo Tifatul Sembiring harus mengambil tindakan tegas dan cepat, bekerjasama dengan pihak-pihak terkait. Blokir blognya, usut dan adili pembuat blognya. Jika tidak, maka bisa menimbulkan gesekan antarumat beragama yang berujung pada konflik.

Tindakan pemerintah sangat diperlukan supaya rakyat yang mayoritas Muslim di negeri ini tidak melakukan tindakan antisipasi sendiri-sendiri. Jika pemerintah diam saja, maka selamat berjihad para blogger dan hacker Muslim. Allahu Akbar!! [taz/voa-islam.com]



Syahadat Yesus Kristus: Islami ataukah Kristiani?



By: H. Insan LS Mokoginta (Wencelclaus)


Dalam brosur “Dakwah Ukhuwah” berjudul “Membina Kerukunan Hidup Antarumat Beragama,” secara licik para misionaris mengelabui umat Islam untuk menggiring akidah agar pindah agama menjadi Kristen.

Puluhan ayat Al-Qur'an dikutip dalam brosur tersebut untuk diselewengkan kepada pengertian yang mendukung doktrin Kristen. Salah satu ayat yang menonjol dalam brosur tersebut adalah surat Az-Zukhruf 61:

“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang Hari Kiamat, karena itu janganlah kamu ragu tentang kiamat itu dan ikutlah Aku, itulah jalan yang lurus.”

Kata “ikutlah aku, itulah jalan yang lurus” ini diselewengkan misionaris sebagai ucapan Yesus sendiri yang berarti orang yang mengimani Al-Qur'an, yaitu umat Islam, harus mengikuti Yesus karena Yesus itulah jalan yang lurus (shirathal mustaqim).

“Jalan yang lurus” (shirathal mustaqim) yang dimaksud dalam ayat tersebut bukannya Yesus yaitu menjadi Kristen. Sama sekali bukan.

Jalan yang lurus yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah jalah Tauhid. Pengertian inilah yang paling tepat, karena surat Az-Zukhruf 61 itu belum berhenti, tapi masih ada kelanjutannya, yaitu ayat 64:
“Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus” (Qs. Az Zukhruf 64).
...Para misionaris tidak perlu menggurui umat Islam untuk mengikuti jalan yang lurus. Karena umat Islam lebih tahu dan akidahnya sudah sesuai dengan ajaran para nabi Allah, termasuk Yesus...
Syahadat Yesus dalam Alkitab, Islami ataukah Kristiani?

Para misionaris tidak perlu menggurui umat Islam untuk mengikuti jalan yang lurus. Karena umat Islam lebih tahu dan akidahnya sudah sesuai dengan ajaran para nabi Allah dari Adam sampai Muhammad SAW, termasuk Yesus (Nabi Isa AS).
Jika para misionaris ingin mengajak umat Islam untuk menaati ajaran Yesus, mari kita buktikan, siapakah yang imannya sesuai dengan ajaran Yesus. Perhatikan sabda Yesus dalam Alkitab berikut:

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Injil Yohanes 17:3).

“And this is life eternal, that they might know thee the only true God, and Jesus Christ, whom thou hast sent”
(Yohanes 17:3, Alkitab King James Version 1810).

“Eternal life is to know you, the only true God, and to know Jesus Christ, the one you sent” (Yohanes 17:3, Contemporary English Version).

“And eternal life means to know you, the only true God, and to know Jesus Christ, whom you sent” (Yohanes 17:3, Today’s English Version).

“And this is life eternal, that they should know thee the only true God, and him whom thou did send, even Jesus Christ” (Yohanes 17:3, Revised Standard Version 1611).

Untuk lebih meyakinkan para pembaca, marilah perhatikan ayat tersebut menurut bahasa-bahasa daerah:

“Ikolah iduik sajati nan kaka tu; iyolah, urang musti tawu pulo jo Bapak, hanyo Angkau sajolah Allah nan bana, urang musti tawu pulo jo Isa Almasih nan Bapak utuih” (Yohanes 17:3, Injil Baso Minang).

“Gesang sejatos inggih menika, menawi tiyang wanuh dhateng Paduka, Allah ingkang sejatos, ingkang mboten wonten tunggilipun, sarta tepang kaliyan Yésus Kristus, utusan Paduka” (Yohanes 17:3, Alkitab boso Jowo).

“Dupi hirup langgeng teh nya eta: Terang ka Ama, Allah sajati anu mung hiji, sareng ka utusan Ama, Yesus Kristus”
(Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Sunda).

“Ka'dhinto' odhi' se salerressa sareng se langgeng; sopaja oreng oneng ka Junandalem, Allah se settong sareng se salerressa, jugan oneng ka Isa Almasih se eotos Junandalem” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Madura).

“Ini no tu hidop yang kekal, biar dorang tau butul-butul Tuhan cuma satu-satunya Allah yang banar, deng Yesus Kristus yang Tuhan  da utus” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Manado sehari-hari).

“Alai na mananda Ho, Debata na sasada i, na sintong i, dohot Jesus Kristus na sinurum, i do hangoluan na salelenglelengna” (Yohanes 17:3, Alkitab bahasa Toba, Sumut).

Pada ayat tersebut Yesus mengaku dengan jujur bahwa satu-satunya Allah yang benar adalah Allah SWT, dan dia hanya seorang utusan Tuhan. Ini berarti Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat (syahadatain), yang jika dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab, akan menjadi: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Isa rasuulullah.”
Sepeninggal Yesus, nabi kita Muhammad SAW juga mengajarkan dua kalimat syahadat (syahadatain) yaitu: “Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammaadar rasuulullah.” Kalimat syahadatain adalah pintu awal menjadi seorang muslim bagi seluruh manusia di dunia.
...Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat, demikian pula umat Islam. Sebaliknya, umat Kristen memiliki 12 syahadat (credo) sendiri yang dikenal dengan ”12 Syahadat/Pengakuan Iman.” Syahadat 12 ini bukan warisan Yesus, tapi hasil rumusan konsili Konstan­ti­nopel tahun 381 M...
Ini adalah bukti bahwa umat Islamlah yang meneruskan ajaran Yesus tersebut. Sementara umat Kristen tidak mengenal dua kalimat syahadat.

Pada ayat tesebut, sangat jelas sekali Yesus berterus terang sejujur-jujurnya bahwa satu-satunya Tuhan yang benar hanyalah Bapa (Allah SWT) dan dia hanya seorang utusan saja.

Apa yang diucapkan Yesus dalam Injil Yohanes 17:3 tadi, sama sekali tidak tidak diamalkan oleh mereka. Bahkan mereka menjadikan Yesus sebagai Tuhan atau Allah itu sendiri yang mereka sembah. Na’udzubillahimindzalik.

Ajaran dua kalimat syahadat Yesus dalam Yohanes 17:3 itu  membuktikan bahwa umat Islamlah agama yang "melestarikan" ajaran Yesus bahwa satu-satunya Tuhan adalah Allah dan dia (Yesus) hanyalah seorang utusan Tuhan, bukan Tuhan maupun penjelmaan Tuhan! Sedangkan umat Kristiani menjadikan Yesus sebagai salah satu oknum Tuhan dalam doktrin Trinitas.
Yesus mengajarkan dua kalimat syahadat, demikian pula umat Islam. Sebaliknya, umat Kristen memiliki 12 syahadat (credo) sendiri yang dikenal dengan ”12 Syahadat/Pengakuan Iman.” Syahadat 12 ini bukan warisan Yesus, tapi hasil rumusan konsili Konstan­ti­nopel tahun 381 M yang diadakan oleh kaisar Theodosius yang dikenal dengan Pengakuan Iman Nicea Konstantinopel (Credo Niceano-Constantinopolitanum).

Jelaslah bagi kita, siapa yang lebih taat kepada syahadat warisan Nabi Isa. Jika para misionaris penulis brosur ”Dakwah Ukhuwah” itu ingin menaati ajaran Yesus, maka ajaran yang paling taat kepada syahadat Yesus adalah Islam. [taz/voa-islam.com]


Pola Hubungan Da’i dan Penguasa

Oleh Akh Muhammad Ramdhoni
Pada awal kemunculan Islam terutama pada masa Rasulallah saw dan Shahabat, tidak dibedakan antara Ulama dan Penguasa (umara), karena pada waktu itu orang yang paling paham terhadap Islam dialah yang menjadi pemimpin. Jika kita lihat pribadi Rasulallah, maka akan kita dapati bahwa beliau selain seorang Rasul juga seorang pemimpin (negarawan) yang handal, begitupun Khulafaur Rasyidin setelahnya, selain orang yang paham terhadap agama mereka juga negarawan yang mumpuni.
Tapi kondisi ini berubah ketika sistem kepemimpinan dalam sejarah Islam beralih dari kekhalifahan yang dipilih berdasarkan kapabelitas dan musyawarah berubah menjadi dinasti atau kerajaan. Pada masa ini kepemimpinan diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain, sehingga tidak melihat keilmuan dan kemampuan tetapi melihat keturunan. Keadaan ini berlangsung hingga jatuhnya Turki Utsmani, bahkan di beberapa Negara Islam sistem semacam ini masih dipergunakan. Maka setelah jaman khulafaur rasyidin hingga sekarang, terjadi dikotomi antara Ulama (da’i) dengan penguasa.
Kedekatan para da’i terhadap para penguasa dan bergaul bersama mereka adalah seumpama senjata yang yang mempunyai dua mata, yaitu : Pertama, Keberhasilan untuk bisa menasihati para penguasa dan menggunakan fasilitas kekuasaan untuk berdakwah. Ini adalah hal yang diharapkan dan patut disyukuri. Kedua, mengakibatkan hancurnya umat Islam , karena para da’i atau ulama disetir oleh penguasa sehingga ulama (da’i) digunakan untuk melanggengkan kekuasaan.
Sesungguhnya bergaul dengan para penguasa akan menjauhkan seseorang dari kebaikan, kecuali penguasa yang dirahmati Allah. Dan orang seperti ini sangat sedikit sekali pada masa kita sekarang. Kebanyakan penguasa adalah orang yang merajut proyek-proyek yang membuat umat Islam menjadi ragu dan terkuasai, baik dengan kebodohan atau pengetahuan.
Imam Abu al-Faraj Abdurrahman az-Zauzi dalam kitabnya Shaidul Khatir bercerita tentang pengalamannya dalam masalah kedekatan terhadap para penguasa seraya berkata : “ Ketika aku masih remaja, aku menempuh jalan orang-orang zuhud dengan membiasakan puasa, shalat dan berkhalwat, maka aku mendapatkan hati yang baik dan tenang, dan ternyata pandanganku menjadi kuat dan tajam. Kondisi itu berakhir dengan munculnya tindakan sebagian para penguasa dimana mereka memuji kata-kataku, kemudian berusaha untuk membuatku cenderung kepadanya. Maka kepribadianku pun terkalahkan dan mengikuti apa yang mereka inginkan yang pada akhirnya hilanglah semua kenikmatan yang pernah kudapatkan.
Kemudian yang lainnya juga berusaha untuk membuat aku cenderung kepada mereka tetapi aku berusaha untuk tidak bergaul dengan mereka juga tidak makan dan minum bersama mereka karena takut dengan syubhat. Kondisi ketika itu sangat meragukan. Kemudian datanglah sebuah takwil yang memberikan keleluasaan terhadap sesuatu yang dibolehkan, maka hilanglah apa yang aku pernah dapatkan dari cahaya kebenaran, dan ternyata bergaul dengan mereka menimbulkan kegelapan dalam hati sehingga hilanglah semua cahaya.
Maka aku tertarik dengan kelembutan Tuhanku dan mengembalikan hatiku yang tadinya menjauh, serta memperlihatkan kepadaku aib-aib yang kulakukan, sehingga aku sadar dan terbangun dari kelalaian.
Kondisi seperti ini menimpa mayoritas orang-orang yang terlalu bebas atau terlalu longgar dalam melakukan pergaulan dengan para penguasa baik dikarenakan takut atau ada kepentingan, atau adanya ketertarikan di balik semua keuntungan yang akan mengantarkan kepada kedudukan sebagai penguasa atau sebagai orang yang terhormat, selain daripada tercapinya kemaslahatan-kemaslahatan pribadi dan kepentingan duniawi.
Berapa banyak orang Islam yang termakan oleh mulut kekuasaan dan ditelan oleh istana-istana para penguasa, juga berapa banyak aktivis dakwah yang bergabung dengan para penguasa kemudian meninggalkan dakwahnya dan berkhianat terhadap amanat serta membatalkan pejanjian serta mencela saudaranya dalam kesucian.
Walaupun demikian bukan berarti kita memberontak atau melakukan perlawanan fisik kepada para penguasa tetapi kita berkewajiban mengingatkan penguasa yang melakukan kekeliruan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dan hadits Rasulallah.
                              
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (An-Nisaa : 59)
Rasulallah saw. bersabda:“Seorang muslim wajib mendengar dan taat kepada penguasa terhadap segala sesuatu yang dia sukai maupun tidak dia sukai selama tidak diperintah untuk bermaksiat. Jika diperintah untuk bermaksiat, maka tiada lagi mendengar dan taat.”(HR. Bukhori dan Muslim)
Sabdanya pula :
“Akan ada penguasa-penguasa yang kalian ketahui dan kalian ingkari; siapa yang mengingkari maka ia berlepas tangan, siapa yang mengingkari maka dia akan selamat, namun orang yang ridho dan yang mengikut,”Mereka berkata, ”Bolehkah kami memerangi mereka?”Beliau SAW bersabda, Tidak, selama mereka masih shalat.”(HR. Muslim [3/1480]).
Dalam riwayat lain Rasulallah bersabda :
“Kecuali kalian telah melihat kekufuran yang nyata, dan kalian memiliki bukti dari Allah.”(Mutafaqun ‘Alaih).
Dalam Tuhfat al Ahuthi, Al-Tirmidzi mengatatakan bahwa, “Seseorang yang mengunjungi penguasa dan memujanya, akan jatuh dalam fitnah, tapi seseorang yang mengunjungi penguasa namun tidak punya kepentingan apa-apa (tidak memujanya) tapi malah memberikannya nasihat dan bergabung dengannya dalam kebaikan, melarangnya berbuat kemunkaran, maka kunjungannya kepada penguasa menjadi jihad terbesarnya.”
Maka sudah sepatutnya bagi para da’i untuk senantiasa melaksanakan dakwah, baik itu kepada rakyat biasa terlebih lagi kepada para penguasa yang melakukan kekeliruan.






News